Benarkah Perempuan Butuh Tidur Lebih Lama? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Perempuan
Ilustrasi Tidur. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit yang merasa bahwa perempuan—baik pasangan, ibu, maupun teman—lebih sering mengeluhkan kurang tidur dibanding laki-laki.

Bahkan, sebagian perempuan sendiri juga merasakan hal serupa: sudah tidur cukup lama, tetapi tetap merasa lelah.

Dari sini muncul pertanyaan, apakah perempuan memang secara biologis membutuhkan waktu tidur yang lebih panjang?

Tidak Sesederhana Faktor Biologis

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kebutuhan tidur antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dijelaskan hanya dari sisi biologis.

Salah satu kajian berjudul The Yin and Yang of Sleep-Wake Regulation: Gender Gap in Need for Sleep menemukan bahwa perempuan memang cenderung melaporkan kebutuhan tidur yang lebih tinggi.

Namun, temuan ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh perbedaan tubuh, melainkan juga dipengaruhi oleh kondisi kehidupan sehari-hari.

Peran Beban Aktivitas Harian

Faktor utama yang sering memengaruhi kualitas tidur perempuan adalah beban aktivitas yang lebih kompleks. Dalam banyak kasus, perempuan menjalani peran ganda yang meliputi:

  • pekerjaan utama atau karier
  • tanggung jawab rumah tangga
  • peran dalam pengasuhan anak
BACA JUGA :  7 Cara Menghadapi Orang Toksik Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental

Kombinasi peran ini sering membuat waktu istirahat menjadi tidak utuh atau terpotong. Akibatnya, meskipun durasi tidur terlihat cukup, kualitasnya belum tentu optimal.

Hal inilah yang membuat perempuan lebih mudah merasa lelah dalam aktivitas harian.

Pengaruh Perubahan Hormon terhadap Tidur

Selain faktor aktivitas, kondisi biologis juga tetap memiliki peran penting. Sebuah tinjauan ilmiah berjudul Sleep in Women: A Narrative Review of Hormonal Influences, Sex Differences and Health Implications menjelaskan bahwa pola tidur perempuan sangat dipengaruhi oleh perubahan hormon.

Beberapa fase yang berpengaruh antara lain:

  • siklus menstruasi yang melibatkan perubahan estrogen dan progesteron
  • masa kehamilan dengan perubahan hormon signifikan
  • fase menopause yang ditandai penurunan hormon tertentu

Perubahan ini dapat menyebabkan tidur menjadi lebih mudah terganggu, sulit nyenyak, atau tidak memberikan efek pemulihan yang maksimal.

BACA JUGA :  Emotional Security dalam Hubungan: Kunci Agar Cinta Tetap Harmonis dan Bertahan Lama

Bukan Hanya Soal Durasi, Tapi Kualitas Tidur

Dari berbagai temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa persoalan tidur tidak cukup hanya diukur dari jumlah jam tidur semata. Yang lebih penting adalah kualitas tidur itu sendiri.

Apakah tidur berlangsung nyenyak?
Apakah tidak sering terbangun di malam hari?
Dan apakah tubuh benar-benar mendapatkan waktu pemulihan yang cukup?

Dalam banyak kasus, perempuan menghadapi tantangan ganda: kualitas tidur yang mudah terganggu dan rutinitas harian yang padat.

Perempuan memang lebih sering merasa kurang tidur, tetapi hal ini bukan semata-mata karena perbedaan biologis. Kombinasi antara perubahan hormon, beban aktivitas harian, dan kualitas istirahat yang kurang optimal menjadi faktor utama yang saling berkaitan.

Pada akhirnya, kebutuhan tidur setiap orang bersifat individual. Yang perlu diperhatikan bukan hanya lama waktu tidur, tetapi juga bagaimana tidur tersebut benar-benar memberikan pemulihan bagi tubuh dan pikiran.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================