
Namun setelah kematian Escobar, kuda nil tersebut berkembang biak tanpa pengawasan hingga populasinya meningkat pesat. Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan oleh otoritas setempat, tetapi pertumbuhannya tetap sulit dikendalikan.
Untuk menangani masalah ini, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar US$1,98 juta atau setara Rp33,9 miliar. Program tersebut mencakup berbagai metode, mulai dari penangkapan, pengurungan, hingga relokasi ke lokasi yang lebih aman.
Selain opsi eutanasia, pemerintah Kolombia juga menjalin komunikasi dengan sejumlah negara seperti India, Meksiko, Filipina, Ekuador, Peru, dan Afrika Selatan untuk kemungkinan relokasi ke kebun binatang atau suaka margasatwa. Namun hingga kini, proses perizinan internasional tersebut masih belum rampung.
Tantangan lain yang dihadapi adalah kondisi genetik kuda nil di Kolombia yang mengalami perkawinan sedarah. Hal ini menurunkan kualitas kesehatan hewan tersebut dan membuat sejumlah lembaga konservasi enggan menerima relokasi.
Dengan kondisi yang terus berkembang, pemerintah Kolombia kini dihadapkan pada dilema antara menjaga keseimbangan ekosistem dan mencari solusi terbaik bagi populasi kuda nil yang semakin tidak terkendali.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















