Ketika Cahaya Layar Meredupkan Nurani

Ketika Cahaya Layar Meredupkan Nurani
Agus Jatmika (pemerhati sosial-komuikasi)

Oleh : Agus Jatmika (pemerhati sosial-komuikasi)

DI tengah terang layar yang tidak pernah padam, ada sisi lain yang kerap luput dari perhatian yakni meredupnya kepekaan.

Peristiwa pembulian di lingkungan sekolah, seperti yang terjadi di SMAN 1 Purwakarta, bukan sekedar kejadian sesaat, melainkan tanda bahwa ada yang perlahan bergeser dalam cara kita memandang sesama.

Sesuatu yang dahulu terasa jelas, mana yang patut, mana yang melampaui batas, kini seolah menjadi samar ditengah arus yang terus bergerak cepat.

Dari Kejadian Menjadi Tontonan

Apa yang dulu berhenti sebagai peristiwa, kini dengan mudah berubah menjadi tayangan. Satu rekaman, satu unggahan, cukup untuk mengubah ruang kelas menjadi konsumsi publik.

Dalam situasi ini, batas antara empati dan hiburan sering kali menipis. Ada kecenderungan untuk melihat, menilai, bahkan menanggapi, tanpa sempat benar-benar merasakan.

Tanpa disadari, perhatian yang besar terhadap hal-hal yang mengundang sensasi perlahan membentuk kebiasaan baru.

Sesuatu yang menarik perhatian lebih mudah diingat, sementara yang menyentuh nurani sering kali terlewatkan. Disinilah ruang digital bukan hanya menjadi tempat berbagi, tetapi juga ruang yang membentuk cara kita merespon realitas.

Relasi yang Mulai Menjauh dari Makna

Dipihak lain sekolah pada dasarnya dibangun dari relasi yang saling menghargai. Guru hadir sebagai pembimbing, sementara siswa tumbuh dalam proses belajar yang tidak hanya akademik, tetapi juga kemanusiaan.

BACA JUGA :  Resep Bubur Kacang Hijau, Menu Sarapan Hangat dan Bergizi

Selain itu perubahan zaman menghadirkan dinamika yang tidak sederhana. Kedekatan yang lebih cair membuka ruang komunikasi, tetapi juga berpotensi mengaburkan batas yang semestinya dijaga.

Ketika penghormatan tidak lagi tumbuh dari kesadaran, melainkan sekedar kebiasaan yang mudah luntur, maka relasi menjadi rapuh. Dalam kondisi seperti ini, tindakan yang dahulu dianggap tidak pantas bisa saja terjadi tanpa banyak pertimbangan.

Aturan yang Ada, Kesadaran yang Tertinggal

Padahal berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah pembulian, dari kebijakan hingga penguatan peran guru dalam pengawasan. Tetapi aturan sering kali berjalan lebih cepat daripada kesadaran yang seharusnya mengikutinya. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang nilai, aturan hanya menjadi batas yang bisa dilanggar ketika tidak diawasi.

Sehingga yang lebih dibutuhkan adalah pembiasaan, sebuah proses panjang yang menumbuhkan empati, tanggung jawab, dan kepekaan terhadap orang lain. Dengan demikian nilai tidak cukup diajarkan, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Panggung yang Berulang

Sementara itu kita juga menyaksikan pola yang hampir serupa setiap kali peristiwa mencuat dimana kejadian terjadi, rekaman tersebar, respon publik mengalir, lalu diakhiri dengan permintaan maaf. Permintaan maaf tentu penting tetapi  ketika hal itu menjadi akhir dari sebuah proses tanpa perubahan yang berarti, maka yang tersisa hanyalah pengulangan.

Selain itu ada kecenderungan bahwa penyelesaian berhenti pada meredakan situasi, bukan pada membangun kesadaran. Akibatnya, kejadian serupa kembali muncul, seolah menjadi bagian dari siklus yang sulit diputus.

BACA JUGA :  Turnamen Voli Istimewa Piala Karang Taruna Meriahkan HJB ke-544 di Malasari Nanggung

Menata Kembali Ruang Belajar

Untuk itu mungkin sudah saatnya melihat kembali sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai ruang yang membentuk cara manusia memahami dirinya dan orang lain. Perlunya lingkungan yang sehat tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga hangat secara sosial. Selain itu juga memberi ruang untuk tumbuh, sekaligus batas untuk saling menjaga.

Disisi ini  peran guru, siswa, orang tua, dan masyarakat menjadi saling terkait. Ketika satu melemah, yang lain akan ikut terpengaruh. Sehingga menjaga nilai bukanlah tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.

Menjaga Nurani di Tengah Terang yang Menyilaukan

Dengan demikian di tengah cahaya layar yang semakin terang, tantangan terbesar justru menjaga agar nurani tidak ikut meredup. Kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan, tetapi juga menuntut kebijaksanaan dalam menggunakannya. Sebab tidak semua yang bisa dilakukan, layak untuk dilakukan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui, tetapi tentang bagaimana seseorang bersikap.

Tentang kemampuan untuk tetap merasakan, memahami, dan menghargai orang lain, bahkan ketika dunia bergerak begitu cepat. Karena di balik setiap layar yang menyala, selalu ada manusia yang seharusnya tidak sekedar dilihat, tetapi juga dihargai.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================