BOGORTODAY.COM – Dalam kehidupan keluarga sehari-hari, sering muncul pola pengasuhan yang cukup umum: ibu cenderung lebih tegas dan disiplin, sementara ayah terlihat lebih santai dan mudah luluh terhadap permintaan anak.
Misalnya, ketika ibu melarang sesuatu, ayah justru memberi izin, atau saat anak menangis, ayah lebih cepat mengalah demi menenangkan situasi.
Fenomena ini kerap dianggap sebagai hal yang wajar dalam dinamika keluarga. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, sikap “tidak tega” ini ternyata memiliki berbagai faktor yang cukup kompleks.
Pola Asuh yang Cenderung Memanjakan
Dalam dunia psikologi, terdapat konsep yang dikenal sebagai indulgent parenting, yaitu pola asuh yang lebih mengutamakan kenyamanan dan kebahagiaan anak dalam jangka pendek.
Dalam pola ini, orang tua cenderung menghindari konflik dengan anak dan berusaha mencegah anak merasa kecewa atau marah.
Beberapa studi yang dipublikasikan dalam Journal of Happiness Studies menunjukkan bahwa pendekatan ini sering berfokus pada kebahagiaan sesaat anak, sehingga orang tua lebih mudah memberikan kelonggaran dalam aturan.
Akibatnya, tindakan orang tua yang terlihat “tidak tega” sebenarnya merupakan bentuk usaha untuk menjaga emosi anak agar tetap stabil dalam situasi tertentu.
Faktor Emosi dan Ikatan Orang Tua–Anak
Selain faktor psikologis, aspek biologis juga turut berperan. Hormon oxytocin dikenal sebagai hormon yang berkaitan dengan ikatan emosional antara orang tua dan anak. Hormon ini dapat meningkatkan rasa kasih sayang, kelembutan, serta empati orang tua terhadap anak.
Karena pengaruh hormon ini, orang tua—termasuk ayah—bisa menjadi lebih mudah tersentuh ketika melihat anak menangis atau sedih, sehingga cenderung mengalah untuk meredakan situasi.
Cara Ayah Mengelola Emosi Anak
Penelitian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health juga menunjukkan bahwa kemampuan ayah dalam mengasuh, yang dikenal sebagai father self-efficacy, memengaruhi cara mereka merespons emosi anak.
Ketika ayah merasa tidak nyaman melihat anak marah atau menangis, ia cenderung memilih jalan cepat seperti:
- mengabulkan permintaan anak,
- mengurangi batasan,
- atau mengalah agar situasi segera tenang.
Hal ini bukan semata-mata bentuk kelembutan, tetapi juga cara ayah mengelola tekanan emosional dalam situasi pengasuhan.
Dampak Pola Asuh yang Tidak Seimbang
Kehadiran ayah yang hangat sebenarnya sangat penting dalam perkembangan anak, terutama dalam membantu anak belajar mengatur emosi. Anak yang memiliki kedekatan dengan ayah umumnya memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik.
Namun, jika kelembutan tidak diimbangi dengan aturan yang konsisten, pola asuh dapat menjadi terlalu permisif. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat anak kurang memahami batasan, tanggung jawab, serta kedisiplinan.
Keseimbangan Peran Orang Tua Itu Penting
Perbedaan gaya pengasuhan antara ibu dan ayah pada dasarnya adalah hal yang normal. Ibu yang cenderung tegas dan ayah yang lebih lembut justru bisa saling melengkapi, selama keduanya memiliki kesepakatan yang jelas dalam menerapkan aturan kepada anak.
Dengan keseimbangan tersebut, anak tidak hanya merasa disayangi, tetapi juga belajar memahami batasan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















