BOGORTODAY.COM – Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang menjadi dambaan setiap Muslim. Kewajiban ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Ali Imran ayat 97, yang menjelaskan bahwa haji wajib ditunaikan oleh mereka yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan.
Namun, jika menelusuri sejarah, ada satu fakta menarik: Nabi Muhammad SAW tidak langsung menunaikan ibadah haji setelah perintah tersebut diturunkan.
Perintah haji telah ada sejak tahun keenam Hijriah, tetapi Rasulullah baru melaksanakannya pada tahun kesepuluh Hijriah.
Artinya, terdapat jeda waktu sekitar empat tahun antara turunnya perintah dan pelaksanaannya oleh beliau. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa Rasulullah SAW menunda ibadah yang merupakan kewajiban tersebut?
Menurut berbagai penjelasan ulama, penundaan ini bukan tanpa alasan. Pada masa itu, kondisi di Makkah belum sepenuhnya kondusif bagi umat Islam. Bahkan setelah peristiwa Fathu Makkah pada tahun kedelapan Hijriah, masih terdapat praktik-praktik jahiliah yang bercampur dalam pelaksanaan haji.
Rasulullah SAW menunggu hingga tata cara ibadah haji benar-benar bersih dari unsur syirik dan menyimpang, sehingga dapat dilaksanakan sesuai tuntunan Islam yang murni.
Ketika akhirnya menunaikan haji pada tahun kesepuluh Hijriah, Rasulullah SAW melaksanakannya bersama puluhan ribu sahabat dalam peristiwa yang dikenal sebagai Haji Wada.
Haji ini menjadi sangat istimewa karena merupakan satu-satunya haji yang dilakukan Rasulullah sekaligus menjadi momen perpisahan beliau dengan umatnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan-pesan penting yang menjadi pedoman hidup umat Islam hingga kini.
Menariknya, sepanjang hidupnya, Rasulullah SAW hanya melaksanakan ibadah haji satu kali. Padahal, beliau memiliki kemampuan untuk melakukannya lebih dari itu. Keputusan ini mengandung hikmah besar, yaitu memberikan kemudahan bagi umat Islam.
Jika Rasulullah sering melaksanakan haji, dikhawatirkan umatnya akan menganggap hal tersebut sebagai kewajiban atau merasa terbebani untuk menirunya.
Dengan demikian, sikap Rasulullah SAW ini menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada umatnya.
Penundaan haji yang beliau lakukan bukanlah bentuk pengabaian terhadap perintah Allah, melainkan strategi yang penuh hikmah agar ibadah tersebut dapat dilaksanakan dalam kondisi terbaik dan menjadi contoh yang tepat bagi seluruh umat Islam.
Kisah ini mengajarkan bahwa dalam menjalankan ibadah, tidak hanya semangat yang diperlukan, tetapi juga kebijaksanaan dalam melihat situasi dan kondisi.
Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa setiap keputusan memiliki pertimbangan yang matang demi kebaikan umat secara keseluruhan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















