Kejang Berulang pada Anak Bisa Jadi Tanda Epilepsi, Orang Tua Diminta Lebih Waspada

BOGORTODAY.COM Kejang pada anak sering kali dianggap sebagai kondisi sesaat yang tidak berbahaya, terutama jika tidak disertai demam. Namun, pandangan ini perlu diwaspadai karena kejang tanpa pemicu yang jelas bisa menjadi indikasi gangguan pada sistem saraf, salah satunya epilepsi.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSIA Bunda Jakarta, Achmad Rafli, menjelaskan bahwa kejang yang terjadi berulang tanpa demam dan tanpa penyebab yang jelas perlu dicurigai sebagai epilepsi. Menurutnya, kondisi ini sering kali tidak disadari orang tua sehingga penanganan menjadi terlambat.

Ia menambahkan bahwa pada anak usia 0 hingga 18 tahun, sistem saraf masih dalam tahap perkembangan.

Pada fase ini, gangguan neurologis seperti epilepsi dapat muncul, tetapi sering tidak terdeteksi sejak awal. Akibatnya, sebagian kasus baru ditangani ketika kondisi sudah lebih serius.

Pentingnya Deteksi Dini

Achmad Rafli menyebutkan bahwa sekitar 20 hingga 30 persen kasus epilepsi pada anak sulit dikendalikan, salah satunya akibat keterlambatan diagnosis.

BACA JUGA :  Piala Dunia 2026 Jadi Tantangan Kesehatan Global, Tim Ahli Pantau Potensi Wabah Secara Real-Time

Banyak orang tua menganggap kejang tanpa demam sebagai hal yang akan hilang dengan sendirinya, padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal gangguan neurologis.

Untuk memastikan diagnosis, diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti electroencephalography (EEG) yang berfungsi merekam aktivitas listrik otak dan mendeteksi adanya pola kejang.

Seiring perkembangan teknologi, pemeriksaan EEG kini semakin mudah dilakukan. Bahkan, beberapa fasilitas kesehatan telah menyediakan EEG portable yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan di rumah pasien, sehingga lebih nyaman terutama bagi anak-anak.

Epilepsi Tidak Bisa Sembuh, Tapi Bisa Dikendalikan

Meski epilepsi tidak dapat disembuhkan secara total, kondisi ini tetap bisa dikontrol dengan pengobatan yang tepat dan rutin. Tujuan utama terapi adalah mengurangi bahkan menghentikan kejang dalam jangka waktu tertentu.

Jika pasien dapat bebas dari kejang selama dua tahun dengan pengobatan yang konsisten, risiko kekambuhan dapat menurun secara signifikan.

BACA JUGA :  Satpam Kebun Sawit Selamatkan Nyawa Pemilik Rumah dari Kobaran Api

Tantangan Stigma di Masyarakat

Selain masalah medis, penderita epilepsi juga masih menghadapi stigma sosial. Banyak masyarakat yang keliru menganggap epilepsi sebagai penyakit menular atau kondisi yang memalukan. Padahal, epilepsi tidak dapat menular melalui kontak apa pun.

Stigma ini sering membuat penderita, termasuk anak-anak, mengalami perlakuan diskriminatif di lingkungan sosial. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi hal penting untuk mengubah pandangan tersebut.

Langkah Pertolongan Saat Anak Kejang

Orang tua juga diimbau untuk tetap tenang ketika anak mengalami kejang. Beberapa langkah awal yang perlu dilakukan antara lain memiringkan posisi anak agar saluran napas tetap aman, melonggarkan pakaian, serta menjauhkan benda berbahaya di sekitarnya.

Setelah kondisi stabil, anak sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Dengan pemahaman yang tepat, diharapkan orang tua dapat lebih cepat mengenali tanda-tanda epilepsi dan memberikan penanganan yang sesuai sejak dini.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================