
Dalam penelitian tersebut, variasi gen ABCC11 tertentu (seperti tipe GG dan GA) dikaitkan dengan peningkatan aktivitas kelenjar apokrin. Sementara varian lainnya (AA), yang lebih umum pada pemilik kotoran telinga kering, cenderung menghasilkan aktivitas lebih rendah.
Tidak Hanya Faktor Genetik
Meski gen memiliki peran penting, para ahli menegaskan bahwa bau badan tidak hanya ditentukan oleh faktor keturunan. Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhi, seperti:
- Kondisi bakteri di kulit
- Tingkat kebersihan tubuh
- Pola makan sehari-hari
- Hormon
- Jenis pakaian yang digunakan
- Lingkungan tempat tinggal
Artinya, seseorang dengan kotoran telinga basah belum tentu memiliki bau badan yang kuat, begitu juga sebaliknya.
Perbedaan pada Setiap Populasi
Menariknya, variasi gen ABCC11 juga berbeda pada tiap kelompok populasi. Studi menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat di beberapa negara Asia Timur, seperti Korea dan Jepang, memiliki varian gen yang berkaitan dengan kotoran telinga kering.
Hal ini juga berdampak pada rendahnya aktivitas kelenjar apokrin, sehingga kecenderungan bau badan pada kelompok tersebut relatif lebih kecil dibandingkan populasi lain.
Hubungan antara kotoran telinga basah dan bau badan ternyata bukan sekadar mitos, melainkan berkaitan dengan faktor genetik.
Namun, kondisi ini tetap dipengaruhi banyak faktor lain di luar gen, sehingga tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk menilai kebersihan atau kondisi tubuh seseorang.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














