
BOGORTODAY.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh level Rp17.400 menuai berbagai tanggapan.
Sejumlah pihak mengaitkan kondisi tersebut dengan ketahanan fiskal Indonesia, khususnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons berbeda terhadap anggapan tersebut.
Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, ia menyebut bahwa isu pelemahan rupiah kerap dikaitkan dengan kondisi fiskal yang dianggap melemah.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa persoalan nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, sehingga pihaknya tidak akan memberikan penilaian lebih jauh terkait hal tersebut.
Menurutnya, fokus pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas fiskal dan memastikan APBN tetap berada dalam jalur yang telah direncanakan.
Ketahanan Energi Jadi Kekuatan Indonesia
Di tengah dinamika global, pemerintah menilai Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat, terutama dari sisi ketahanan energi. Bahkan, Indonesia disebut berada di posisi unggul dibanding sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, hingga Australia.
Kondisi ini dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi potensi krisis global, sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
Defisit APBN Masih Aman
Dari sisi fiskal, pemerintah memastikan defisit APBN tetap terkendali. Hingga saat ini, defisit tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimal 3 persen yang telah ditetapkan dalam kebijakan fiskal.
Pemerintah juga mengingatkan agar angka defisit tersebut tidak disederhanakan dengan proyeksi tahunan secara linear, mengingat pola pendapatan dan belanja negara memiliki siklus yang berbeda sepanjang tahun.
Kinerja APBN Tunjukkan Tren Positif
Kinerja APBN hingga Maret 2026 menunjukkan tren yang cukup ekspansif. Pendapatan negara tercatat tumbuh sekitar 10 persen secara tahunan menjadi Rp574,9 triliun. Sementara itu, penerimaan perpajakan meningkat 14 persen menjadi Rp462 triliun.
Lebih rinci, penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun atau tumbuh lebih dari 20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang masih berjalan cukup baik di tengah tekanan global.
Meski nilai tukar rupiah tengah mengalami tekanan, pemerintah menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia tetap terjaga. Dengan defisit yang terkendali dan kinerja pendapatan yang positif, APBN dinilai masih berada pada jalur yang aman. Di sisi lain, faktor eksternal dan kebijakan moneter tetap menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar ke depan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















