Upaya Kelurahan Panaragan Atasi Banjir dan Longsor dengan Teknologi Terbaru

Wilayah RW 02 Panaragan juga ditunjuk sebagai lokasi program “Gerobak Saepisan” (Bogor Bebas Kumuh). Program ini mencakup tujuh indikator keberhasilan, mulai dari perbaikan sarana prasarana hingga pemberdayaan UMKM lokal.

“RW 02 menjadi fokus karena letaknya diapit beberapa sungai, sehingga butuh intervensi sarana agar terlepas dari kategori kawasan kumuh,” tambah Ima.

Tantangan PKL dan Transparansi Bansos

Meski progres fisik positif, tantangan besar masih ada pada penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Veteran. Keberadaan PKL pada sore hingga malam hari kerap memicu kemacetan dan mengganggu fungsi trotoar.

BACA JUGA :  Peabo Bryson, Suara Legendaris di Balik Lagu Disney, Tutup Usia pada 75 Tahun

Ima mengungkapkan pihaknya telah mengusulkan relokasi ke Pasar Devris, namun kebijakan tersebut masih menunggu keputusan Pemerintah Kota dan PD Pasar.

“Kendala utama adalah kekhawatiran pedagang kehilangan pelanggan. Namun, kami terus mendorong normalisasi trotoar agar hak pejalan kaki kembali terpenuhi,” tegasnya.

Terkait bantuan sosial seperti BPNT, Ima menjamin transparansi dengan melakukan pengecekan langsung ke lapangan (ground check). Langkah ini memastikan bantuan tepat sasaran bagi warga yang masuk dalam data Desil 1 hingga 5.

BACA JUGA :  Momen HJB ke-544, Jaro Ade dan Pengcab IMI Kabupaten Bogor Susuri Jejak Raden Ipik dari Jasinga hingga Malasari

Sekilas Sejarah Panaragan

Kelurahan Panaragan memiliki nilai sejarah tinggi, berawal dari pemukiman prajurit Mataram (Warok Ponorogo) pada tahun 1629. Kini, kelurahan padat penduduk tersebut bertransformasi menjadi kawasan permukiman perkotaan swasembada yang tetap mempertahankan akar budayanya.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Wartawan : Aditya Nugraha

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================