Upaya Kelurahan Panaragan Atasi Banjir dan Longsor dengan Teknologi Terbaru

Lurah Panaragan, Ima Ratnasari, dalam kegiatan Media Gathering di Aula Kelurahan Panaragan, pada Rabu (6/5/2026).

BOGORTODAY.COM – Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, terus bersolek melalui serangkaian program pembangunan infrastruktur dan penguatan sistem mitigasi bencana. Dengan populasi mencapai 6.701 jiwa pada tahun 2026, kelurahan bersejarah ini berupaya menyeimbangkan pelayanan publik yang prima dengan penanganan permasalahan wilayah yang kompleks.

Hal tersebut dipaparkan oleh Lurah Panaragan, Ima Ratnasari, dalam kegiatan Media Gathering di Aula Kelurahan Panaragan, pada Rabu (6/5/2026). Dalam kesempatan itu, Ima menjabarkan visi “PANARAGAN” yang menjadi landasan pelayanan di wilayahnya.

“Visi kami adalah PANARAGAN, di mana huruf P melambangkan Pelayanan Prima. Kami mengedepankan aparatur yang bersih dan berwibawa, administrasi tertata, lingkungan nyaman, hingga sikap responsif dalam menyelesaikan permasalahan warga,” ujar Ima.

Pilot Project Mitigasi Bencana Modern

Kelurahan Panaragan kini menjadi lokasi percontohan (pilot project) pemasangan alat deteksi bencana modern. Mengingat letak geografisnya yang diapit sungai dengan kontur tanah curam, kerawanan banjir dan longsor menjadi perhatian serius pemerintah setempat.

Ima menjelaskan bahwa di RW 07, yang berbatasan langsung dengan Sungai Cisadane, telah terpasang sistem Early Warning System (EWS) banjir yang terintegrasi.

BACA JUGA :  Sambut Hari Lingkungan Hidup, Warga Mekarjaya dan PTPN IV Regional I Normalisasi Sungai Cikalong

“Dulu alatnya manual. Sekarang jauh lebih canggih; jika air mencapai ketinggian tertentu, alarm akan otomatis berbunyi di pemukiman warga,” jelasnya.

Selain itu, Panaragan menjadi wilayah pertama di Kota Bogor yang memasang alat deteksi dini longsor di RW 01, hasil kolaborasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) dan BPBD. Simulasi evakuasi juga rutin dilakukan guna meminimalisir risiko korban jiwa.

Infrastruktur dan Program ‘Gerobak Saepisan’

Pembangunan fisik di Panaragan pada periode 2025-2026 berjalan masif, meliputi pemasangan paving block di RW 07, penggunaan beton dekoratif (stamped concrete) di jalan lingkungan, hingga perbaikan kanstin di Jalan Veteran.

Wilayah RW 02 Panaragan juga ditunjuk sebagai lokasi program “Gerobak Saepisan” (Bogor Bebas Kumuh). Program ini mencakup tujuh indikator keberhasilan, mulai dari perbaikan sarana prasarana hingga pemberdayaan UMKM lokal.

“RW 02 menjadi fokus karena letaknya diapit beberapa sungai, sehingga butuh intervensi sarana agar terlepas dari kategori kawasan kumuh,” tambah Ima.

BACA JUGA :  Mitra MBG Tuntut Kepala BGN Baru Perkuat Regulasi dan Tata Kelola

Tantangan PKL dan Transparansi Bansos

Meski progres fisik positif, tantangan besar masih ada pada penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Veteran. Keberadaan PKL pada sore hingga malam hari kerap memicu kemacetan dan mengganggu fungsi trotoar.

Ima mengungkapkan pihaknya telah mengusulkan relokasi ke Pasar Devris, namun kebijakan tersebut masih menunggu keputusan Pemerintah Kota dan PD Pasar.

“Kendala utama adalah kekhawatiran pedagang kehilangan pelanggan. Namun, kami terus mendorong normalisasi trotoar agar hak pejalan kaki kembali terpenuhi,” tegasnya.

Terkait bantuan sosial seperti BPNT, Ima menjamin transparansi dengan melakukan pengecekan langsung ke lapangan (ground check). Langkah ini memastikan bantuan tepat sasaran bagi warga yang masuk dalam data Desil 1 hingga 5.

Sekilas Sejarah Panaragan

Kelurahan Panaragan memiliki nilai sejarah tinggi, berawal dari pemukiman prajurit Mataram (Warok Ponorogo) pada tahun 1629. Kini, kelurahan padat penduduk tersebut bertransformasi menjadi kawasan permukiman perkotaan swasembada yang tetap mempertahankan akar budayanya.

Bagi Halaman

Wartawan : Aditya Nugraha

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================