BOGORTODAY.COM – Letusan gunung berapi sering kali dianggap terjadi secara mendadak tanpa tanda apa pun. Anggapan tersebut kembali muncul setelah erupsi Gunung Dukono yang terjadi pada Mei 2026 dan menimbulkan korban jiwa.
Padahal, secara ilmiah, aktivitas gunung berapi biasanya sudah menunjukkan perubahan tertentu sebelum terjadi letusan. Namun, tidak semua tanda tersebut dapat terlihat jelas di permukaan sehingga erupsi terkadang tampak datang secara tiba-tiba.
Gunung Dukono Sempat Berstatus Waspada
Sebelum erupsi terjadi, Gunung Dukono diketahui sudah berada pada Level II atau status Waspada sejak akhir Maret 2026. Pada status tersebut, masyarakat dan pendaki sebenarnya diminta untuk tidak mendekati area kawah dalam radius tertentu demi keselamatan.
Meski demikian, aktivitas vulkanik memang tidak selalu mudah diprediksi secara pasti. Beberapa gunung dapat terlihat tenang di permukaan, tetapi ternyata menyimpan tekanan besar di bawah tanah.
Penelitian Mengungkap Aktivitas Gunung Berapi di Bawah Permukaan
Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan dari University of Geneva mencoba memahami bagaimana gunung berapi bisa mengalami letusan mendadak.
Penelitian tersebut dilakukan di Gunung Ebeko dengan memasang puluhan alat pemantau seismik untuk mendeteksi aktivitas di bawah permukaan bumi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gunung berapi memiliki sistem penyimpanan magma berlapis di bawah tanah. Terdapat zona dangkal dan zona lebih dalam yang saling terhubung melalui retakan batuan.
Kondisi inilah yang membuat gunung berapi terkadang tampak tenang, tetapi sebenarnya sedang mengalami peningkatan tekanan di bagian dalam.
Mengapa Gunung Berapi Bisa Meletus Mendadak?
Menurut para peneliti, salah satu penyebab letusan mendadak adalah adanya tekanan gas dan cairan panas yang bergerak melalui retakan batuan di bawah gunung.
Pada beberapa gunung berapi, terdapat lapisan batuan yang dipenuhi air panas dan gas. Ketika magma atau panas baru masuk ke area tersebut, tekanan bisa meningkat sangat cepat dan memicu ledakan tanpa tanda besar di permukaan.
Karena proses ini terjadi di bawah tanah, masyarakat sering kali tidak menyadari adanya peningkatan aktivitas vulkanik.
Peran Sistem Air Panas di Dalam Gunung
Penelitian juga menemukan bahwa aktivitas gunung berapi berkaitan erat dengan sistem hidrotermal atau aliran air panas bawah tanah.
Air yang bergerak melalui celah batuan dapat bercampur dengan panas dan gas dari magma. Saat tekanan semakin tinggi, campuran tersebut dapat memicu ledakan uap yang kuat.
Fenomena ini menjelaskan mengapa beberapa letusan lebih banyak mengeluarkan uap, abu, dan gas dibandingkan lava dalam jumlah besar.
Letusan Terjadi Secara Bertahap
Meski tampak mendadak, ilmuwan menjelaskan bahwa letusan gunung berapi sebenarnya terjadi melalui proses bertahap di bawah permukaan bumi.
Tekanan dari magma, gas, dan cairan panas terus meningkat sedikit demi sedikit hingga akhirnya batuan tidak mampu lagi menahannya. Saat itulah terjadi erupsi.
Namun, kapan tepatnya tekanan tersebut mencapai titik letusan masih sangat sulit diprediksi secara akurat.
Mengapa Letusan Sulit Dipastikan Waktunya?
Teknologi pemantauan gunung berapi saat ini memang mampu mendeteksi gempa kecil, perubahan suhu, hingga deformasi permukaan tanah. Akan tetapi, kondisi di bawah gunung sangat kompleks.
Banyak faktor yang memengaruhi letusan, seperti:
- Pergerakan magma
- Tekanan gas
- Retakan batuan
- Sistem air panas bawah tanah
- Struktur lapisan bumi
Karena itu, ilmuwan umumnya hanya dapat memperkirakan potensi erupsi dan tingkat bahayanya, bukan menentukan waktu letusan secara pasti.
Pentingnya Mematuhi Status Gunung Berapi
Peristiwa erupsi Gunung Dukono menjadi pengingat penting bahwa status aktivitas gunung berapi harus diperhatikan dengan serius.
Meski gunung terlihat tenang, aktivitas di bawah permukaan bisa terus berlangsung tanpa disadari. Oleh sebab itu, masyarakat maupun pendaki diimbau untuk selalu mengikuti rekomendasi dari otoritas vulkanologi dan tidak memasuki zona terlarang.
Gunung berapi sebenarnya tidak benar-benar meletus secara tiba-tiba. Sebelum erupsi terjadi, terdapat proses panjang di bawah permukaan yang melibatkan magma, gas, air panas, dan retakan batuan.
Namun, karena sebagian besar aktivitas tersebut tidak terlihat dari luar, letusan sering tampak mendadak bagi masyarakat. Itulah sebabnya pemantauan gunung berapi dan kepatuhan terhadap peringatan dini sangat penting untuk mengurangi risiko korban jiwa saat terjadi erupsi.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















