
BOGORTODAY.COM – Keluhan warga terkait pembangunan Hotel Prima di kawasan Katulampa resmi bergulir ke meja legislatif. Persoalan ini dibahas dalam rapat kerja di ruang Komisi III DPRD Kota Bogor, Rabu (13/5/2026), menyusul adanya keluhan warga terkait minimnya komunikasi dari pihak pengembang serta dampak lingkungan yang mulai dirasakan.
Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor, Ahmad Aswandi menyatakan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai pembangunan hotel yang dinilai berjalan tanpa koordinasi transparan dengan masyarakat setempat.
“Laporan dari warga menyebutkan pembangunan Hotel Prima ini dilakukan tanpa komunikasi atau koordinasi yang jelas, baik kepada pengurus wilayah RT dan RW maupun kepada warga sekitar,” ujar Aswandi.
Politisi yang akrab disapa Kiwong ini menambahkan, warga merasa bingung karena sejak awal proyek dimulai, tidak ada penjelasan mendalam mengenai konsep pembangunan maupun mitigasi dampak lingkungannya.
“Warga tidak menolak investasi, namun alangkah baiknya ‘adat ketimuran’ tetap dikedepankan. Harus dijelaskan Amdal-nya seperti apa, fungsinya untuk apa, dan apa manfaatnya bagi warga sekitar,” tegasnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, Komisi III berencana memanggil dinas terkait untuk memastikan legalitas proyek tersebut. “Kami akan panggil dinas teknis untuk mengecek perizinan dan Amdal-nya. Kami juga akan mengonfirmasi kepada camat dan lurah sejauh mana komunikasi investor dengan aparatur wilayah selama ini,” jelas Aswandi.
Di tempat yang sama, Ketua RT 01 RW 19 Katulampa, Mada Arditia membeberkan bahwa pembangunan Hotel Prima yang merupakan hasil pengambilalihan eks Bumi Katulampa telah berlangsung sejak Juli 2025. Namun, hingga kini pihak manajemen hotel terkesan menutup diri.
“Kami sudah berulang kali meminta pertemuan dengan manajemen, tapi tidak pernah terealisasi. Bahkan, saat pihak kelurahan mengundang pengembang pada 6 Mei lalu, perwakilan mereka tidak ada yang hadir hingga acara selesai,” ungkap Mada.
Saat ini, progres pembangunan fisik hotel diperkirakan sudah mencapai 70 persen karena memanfaatkan struktur bangunan lama yang sebelumnya terbengkalai. Warga mulai mengeluhkan kebisingan, polusi, serta ancaman kemacetan di akses jalan utama Katulampa.
“Kondisi jalan saat ini saja sudah padat setiap pagi dan sore, apalagi jika nanti hotel sudah beroperasi. Itu kekhawatiran utama kami. Intinya kami ingin ada kejelasan dan sinergi, bukan sekadar membangun tanpa memperhatikan lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Warga berharap DPRD Kota Bogor dapat menjadi fasilitator yang menjembatani pertemuan dengan pihak investor agar ada solusi konkret atas dampak pembangunan tersebut.
Bagi HalamanWartawan : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















