Hari Tasyrik dan Larangan Puasa: Ini Penjelasan dan Dalilnya dalam Islam

BOGORTODAY.COM Hari Tasyrik merupakan bagian dari rangkaian perayaan Idul Adha yang jatuh setiap tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Pada hari-hari tersebut, umat Islam masih berada dalam suasana hari raya yang identik dengan ibadah kurban, kebersamaan keluarga, serta kegiatan makan dan berbagi kepada sesama.

Dalam ajaran Islam, terdapat ketentuan khusus mengenai puasa yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah. Salah satu syarat pentingnya adalah puasa dilakukan pada waktu yang diperbolehkan menurut syariat.

Para ulama menjelaskan bahwa Hari Tasyrik termasuk waktu yang dilarang untuk berpuasa. Ketentuan ini didasarkan pada sejumlah hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa hari-hari tersebut merupakan waktu untuk menikmati rezeki Allah SWT serta memperbanyak zikir.

Dalam kitab Seri Fikih Kehidupan, Ahmad Sarwat menerangkan bahwa puasa tidak dianggap sah apabila dilakukan pada waktu yang memang dilarang oleh syariat. Karena itu, seseorang yang tetap berpuasa pada Hari Tasyrik dinilai tidak memenuhi syarat sah puasa.

BACA JUGA :  Kesempatan Emas untuk Guru Indonesia, Program Pertukaran Pendidikan ke Jepang Dibuka Tahun 2026

Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama terkait hukum puasanya. Sebagian ulama menyatakan hukumnya haram secara mutlak, sementara sebagian lain menyebut makruh dalam kondisi tertentu.

Salah satu pengecualian berlaku bagi jamaah haji yang tidak mampu membayar dam atau denda tertentu sehingga diwajibkan berpuasa sebagai pengganti. Dalam kondisi tersebut, puasa pada Hari Tasyrik diperbolehkan sesuai ketentuan syariat.

Dalil Larangan Puasa Hari Tasyrik

Larangan berpuasa pada Hari Tasyrik didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim:

“Sesungguhnya hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Hadis tersebut menjelaskan bahwa Hari Tasyrik bukan diperuntukkan sebagai waktu menahan diri dari makan dan minum, melainkan momen menikmati nikmat Allah SWT sambil memperbanyak ibadah dan zikir.

Hadis lain juga menegaskan hal serupa. Dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

BACA JUGA :  Jaro Ade Resmi Buka Turnamen Golf Bergengsi HJB ke-544 di Gunung Putri

“Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya umat Islam serta hari untuk makan dan minum.”

Dari penjelasan tersebut, umat Islam dianjurkan memanfaatkan Hari Tasyrik untuk mempererat kebersamaan, berbagi makanan kurban, serta meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Hari-Hari Lain yang Dilarang untuk Berpuasa

Selain Hari Tasyrik, terdapat beberapa waktu lain yang juga dilarang untuk menjalankan puasa, di antaranya:

  • Hari Raya Idul Fitri
  • Hari Raya Idul Adha
  • Puasa khusus hari Jumat tanpa disertai puasa sebelum atau sesudahnya
  • Puasa pada hari yang diragukan menjelang Ramadan dalam kondisi tertentu

Larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam mengatur ibadah secara seimbang. Ada waktu untuk beribadah dengan menahan diri melalui puasa, tetapi ada pula waktu yang dianjurkan untuk menikmati nikmat Allah SWT dan mempererat hubungan sosial bersama sesama umat Muslim.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================