Kehamilan di Usia 40-an: Tidak Selalu Aman Jika Disertai Penyakit Berat

Kehamilan
Ilustrasi Hamil. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Kehamilan di usia 40-an kini semakin sering terjadi. Namun, secara medis, tidak semua perempuan pada rentang usia tersebut berada dalam kondisi yang aman untuk hamil, terutama jika memiliki penyakit kronis atau gangguan organ berat.

Dokter spesialis kandungan Andon Hestiantoro menegaskan bahwa dalam situasi tertentu, kehamilan justru dapat menimbulkan risiko serius hingga mengancam nyawa ibu.

“Ada kondisi yang sangat membahayakan nyawa ibu sehingga kehamilan sangat tidak disarankan,” ujar Andon.

Berikut sejumlah kondisi medis yang membuat kehamilan di usia 40-an tidak direkomendasikan.

  1. Penyakit Jantung atau Paru Berat

Kehamilan meningkatkan volume darah dan beban kerja jantung. Pada perempuan dengan gangguan jantung berat atau hipertensi pulmonal, kondisi ini dapat memicu gagal jantung dan meningkatkan risiko kematian ibu.

Mengutip Cleveland Clinic, perempuan dengan penyakit jantung bawaan juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan prematur.

  1. Gagal Ginjal Kronis
BACA JUGA :  Pembebasan Lahan Jalan Rancabungur-Leuwiliang Butuh Anggaran Rp50 Miliar

Gagal ginjal kronis, terutama pada pasien yang memerlukan cuci darah, menjadi kondisi yang sangat berisiko. Fungsi ginjal yang sudah menurun drastis membuat tubuh sulit beradaptasi dengan perubahan metabolik selama kehamilan.

  1. Kanker Aktif yang Sedang Diobati

Kehamilan pada perempuan yang sedang menjalani terapi kanker tidak dianjurkan.

Menurut laporan dari Cancer Center, paparan terapi radiasi pada ibu hamil dapat menyebabkan cacat lahir seperti kemandulan, katarak, hingga kematian janin.

Sementara itu, kemoterapi pada trimester pertama dapat memengaruhi perkembangan mata, telinga, sistem peredaran darah, serta pertumbuhan janin.

  1. Riwayat Komplikasi Kehamilan Berat

Perempuan yang pernah mengalami komplikasi serius seperti perdarahan hebat atau plasenta akreta memiliki risiko tinggi mengalami kondisi serupa pada kehamilan berikutnya.

Dalam kasus tertentu, dokter dapat menyarankan alternatif seperti adopsi atau surogasi jika risiko mortalitas dinilai terlalu tinggi.

  1. Sirosis Hati Berat
BACA JUGA :  Daftar Game Baru yang Rilis Juni 2026, Remake Legendaris Siap Ramaikan Pasar

Gangguan fungsi hati yang berat dapat menyebabkan masalah pembekuan darah dan meningkatkan risiko perdarahan saat hamil maupun persalinan.

Mengutip Biology Insights, penyakit hati stadium lanjut juga dapat mengganggu keseimbangan hormon yang diperlukan untuk ovulasi dan menstruasi.

Kondisi ini bisa menyebabkan amenore (tidak menstruasi) atau oligomenore (menstruasi tidak teratur).

Pada perempuan dengan sirosis, kesuburan diperkirakan menurun hingga sekitar 40 persen.

Konsultasi Medis Jadi Kunci

Dalam berbagai kondisi tersebut, risiko yang dihadapi ibu jauh lebih besar dibandingkan manfaat kehamilan.

Karena itu, konsultasi medis menyeluruh sangat penting agar perempuan dan pasangan memahami konsekuensi kesehatan sebelum merencanakan kehamilan.

Kehamilan di usia 40-an memang memungkinkan, tetapi keputusan untuk hamil sebaiknya didasarkan pada kesiapan kondisi kesehatan, bukan hanya keinginan.

Keselamatan ibu tetap menjadi prioritas utama dalam setiap perencanaan kehamilan, terutama pada usia dan kondisi medis berisiko tinggi.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================