

Ia mengisahkan bagaimana Bunda Siti Hajar memberikan contoh nyata mengenai pentingnya ikhtiar yang suci melalui peristiwa Sa’i, yakni berjalan dan berlari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.
Selain itu, Adityawarman menyoroti aspek menarik dalam pola asuh Nabi Ibrahim saat menerima perintah berat untuk menyembelih Nabi Ismail.
“Nabi Ibrahim AS adalah sosok ayah yang membangun komunikasi yang baik dengan putranya. Beliau mendahulukan diskusi ketimbang eksekusi,” tutur Adityawarman.
Kutipan dialog penuh kasih sayang antara kata “Ya bunayya” (wahai anakku) yang diucapkan Nabi Ibrahim dan jawaban takzim “Ya abati” (wahai ayahku) dari Nabi Ismail, menurut Adityawarman, harus menjadi cerminan bagi para orang tua masa kini dalam membangun hubungan keluarga yang harmonis dan penuh kesantunan.
Karena kepatuhan total dan keikhlasan tersebut, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar.
Adityawarman secara tidak langsung mengajak seluruh masyarakat Kota Bogor untuk mengikis sikap acuh tak acuh dan berani mengambil peran dalam berkorban demi kebaikan bersama.
Ia menekankan bahwa kemajuan sebuah daerah dan bangsa sangat bergantung pada kerelaan warganya dalam menekan ego kepantingan pribadi demi kemaslahatan keluarga, lingkungan, serta negara.
Kemudian Adityawarman membaca doa bersama agar seluruh ibadah kurban masyarakat diterima oleh Allah SWT, dosa-dosa diampuni, serta Kota Bogor senantiasa diberikan perlindungan dan keberkahan. ***
Editor : Admin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















