
Burrows menekankan bahwa melewatkan sarapan bukan cara efektif untuk menurunkan berat badan. Sebuah penelitian di Spanyol menunjukkan bahwa sarapan idealnya memenuhi 20–30% kebutuhan kalori harian, yaitu sekitar:
- 500–750 kalori untuk pria
- 400–600 kalori untuk wanita
Sarapan membantu menjaga stabilitas gula darah, memberi tenaga untuk aktivitas fisik, dan mencegah makan berlebihan di siang hari.
Dampak Sarapan ke Kesehatan Mental
Waktu sarapan juga dikaitkan dengan kondisi mental. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa orang yang makan sebelum pukul 9 pagi memiliki risiko 28% lebih rendah mengalami depresi dibandingkan mereka yang sarapannya lebih lambat atau sering melewatkannya.
Ritme sirkadian tubuh turut berperan. Ahli nutrisi Cara Rose menjelaskan bahwa saat tidur, tubuh menggunakan simpanan glukosa di hati.
Setelah sekitar delapan jam, tubuh meningkatkan produksi kortisol untuk menjaga energi. Kadar kortisol yang tinggi inilah yang membuat sebagian orang tidak merasa lapar saat bangun.
Rose menyarankan beberapa langkah untuk mengatasi kondisi ini:
- memperbaiki pola tidur
- mendapatkan paparan sinar matahari pagi
- melakukan pernapasan dalam untuk menurunkan kortisol
Tidak Harus Sarapan Besar, Dengarkan Kebutuhan Tubuh
Burrows menambahkan bahwa sarapan ringan tanpa kafein sudah cukup untuk membantu tubuh mengembalikan keseimbangan.
Tidak semua orang wajib makan besar di pagi hari. Dalam budaya Mediterania, misalnya, sarapan ringan adalah hal yang umum dilakukan karena pola makan mereka kaya lemak sehat yang menjaga rasa kenyang lebih lama.
Kuncinya adalah mendengarkan kebutuhan tubuh, tidak memaksakan diri, sekaligus tetap memastikan pola makan harian seimbang agar energi dan kesehatan tetap terjaga.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















