Studi Ungkap Diet Intermittent Tak Hanya Turunkan Berat Badan, tetapi Juga Mempengaruhi Fungsi Otak

Diet Intermittent
Studi Ungkap Diet Intermittent Tak Hanya Turunkan Berat Badan, tetapi Juga Mempengaruhi Fungsi Otak. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Diet intermittent atau puasa berselang selama ini dikenal sebagai salah satu metode yang efektif untuk membantu menurunkan berat badan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan manfaatnya tidak berhenti pada angka timbangan. Metode pola makan ini ternyata juga dapat memengaruhi aktivitas otak dan hubungan antara sistem pencernaan dengan pusat pengendali nafsu makan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan pada 2023 dan menyoroti bagaimana intermittent energy restriction (IER) mampu mengubah interaksi antara mikrobioma usus dan fungsi otak pada manusia.

Menurut para peneliti, perubahan yang terjadi selama program diet tidak hanya terlihat pada penurunan berat badan, tetapi juga pada aktivitas sejumlah area otak yang berhubungan dengan perilaku makan, pengendalian diri, hingga kecenderungan adiktif terhadap makanan.

BACA JUGA :  HGB Kedaluwarsa Sejak 2017, Petani Geruduk BPN Kabupaten Bogor

Hubungan Antara Usus dan Otak

Penelitian ini melibatkan 25 orang dewasa dengan obesitas di China. Para peserta memiliki usia rata-rata 27 tahun dengan indeks massa tubuh (IMT) yang berada pada kategori obesitas.

Untuk memahami dampak diet secara menyeluruh, para ilmuwan melakukan berbagai pemeriksaan, termasuk analisis sampel darah dan tinja serta pemindaian otak menggunakan teknologi functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Melalui metode tersebut, peneliti mengamati aktivitas di sejumlah wilayah otak yang berperan dalam mengatur rasa lapar, emosi, perhatian, proses belajar, kontrol diri, dan sistem penghargaan (reward system).

Program Diet Selama Dua Bulan

Rangkaian penelitian berlangsung dalam dua tahap utama. Pada fase pertama yang berlangsung selama 32 hari, peserta menjalani program pembatasan kalori secara ketat dengan menu yang telah disusun oleh ahli gizi.

BACA JUGA :  Setelah Dicopot dari Kepala BGN, Ini Rincian Harta Kekayaan Dadan Hindayana

Asupan energi harian dikurangi secara bertahap hingga hanya sekitar seperempat dari kebutuhan dasar tubuh.

Setelah itu, peserta memasuki tahap kedua selama 30 hari. Pada fase ini, mereka tetap menjalani pola makan rendah kalori dengan batas konsumsi sekitar 500 kalori per hari untuk perempuan dan 600 kalori per hari untuk laki-laki.

Berat Badan Turun dan Metabolisme Membaik

Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Rata-rata peserta mengalami penurunan berat badan sekitar 7,6 kilogram atau hampir 8 persen dari berat badan awal mereka.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================