
Jadi, dari Dinas Perikanan sudah melakukan pemilahan dan pemilihan mana yang kira-kira memang ikan-ikan ini justru dapat merusak ekosistem karena invasif.
“Apa yang kita tebar sudah sesuai apa yang diharapkan. Kita berkomitmen menghindari kepunahan ikan endemik secara keberlanjutan. Jadi, itu yang sebenarnya yang kita lakukan agar apa yang kita tebar itu menjadi lebih banyak dan berpengaruh kepada daerah-daerah sungai di hilirnya,” tegasnya.
Ia mengatakan memang harapannya tidak ada pengurangan ikan endemik atau hilang gara-gara misalnya ikan yang ditebar itu adalah ikan yang invasif.
“Kita sangat menghindari itu, justru ikan yang ditebar itu ikan-ikan yang lokal yang cenderung indukan, yang harapannya nanti bisa berkembang biak dan bisa memperbanyak ikan-ikan yang ada di Telaga Saat dan di sepanjang aliran sungai,” imbuhnya.
Ajat Rochmat Jatnika mengatakan, malam ini di Aula Ciliwung, pihaknya berkumpul dengan komunitas lingkungan yang sangat mendukung kegiatan ini. Mereka juga menyaksikan sendiri bahwa apa yang ditebar bukan ikan-ikan invasif yang kemudian bisa mengganggu ekosistem ikan-ikan endemik yang ada di Telaga Saat.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan, Rohman menambahkan jumlah ikan yang ditebar sebanyak 10.000 indukan dan benih ikan yang sesuai dengan habitatnya. Jenis indukan dan benih ikan yang ditebar dalam acara Hari Lingkungan Hidup, yaitu jenis Ikan Baung, Ikan Nilem, Ikan Tawes, dan Ikan Brida.
“Yang kita tebar dalam acara ini adalah indukan dan benih ikan yang jenisnya sesuai dengan habitatnya, yaitu Ikan Baung, Ikan Nilem, Ikan Tawes, dan Ikan Brida. Jumlah keseluruhannya sebanyak 10.000 indukan benih ikan yang ditebar di Telaga Saat dalam rangka Hari Lingkungan Hidup dan HJB ke-544,” ucap Rohman.
Ditemui usai acara Temu Komunitas, Alpata dari unsur Masyarakat Perkebunan Ciliwung mengungkapkan sejak 2004 di Telaga Saat, dan pada tahun 2006 revitalisasi pertama, lalu revitalisasi kedua pada tahun 2019 di BWSCC, ikan endemik memang sudah tidak ada tapi masih ada ikan Cere dan ikan Cupang Rawa.
Ketika masa itu, ketika masuk musim kemarau air di Telaga Saat surut, bahkan tumbuhan didalam telaga bisa terlihat.
Menurutnya, karyawan Perkebunan Ciliwung memiliki kebiasaan menebar ikan untuk nanti dipancing oleh mereka. Jadi, benih-benih ikan ditebar disini oleh mandor-mandor dan karyawan.
“Itu sudah kebiasaan mereka, ketika ikan sudah bisa dipanen lalu mereka memancingnya untuk konsumsi mereka,” ungkapnya.
Ia juga mendukung kegiatan Pemkab Bogor menebar indukan dan benih ikan, sehingga dapat mengedukasi masyarakat tentang Titik Nol Ciliwung di Telaga Saat, dan mengedukasi tentang konservasi, serta mengedukasi tebar indukan dan benih ikan menjadi daya tarik wisata tanpa merusak lingkungan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Diskominfo Kabupaten Bogor
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














