
BOGORTODAY.COM – Tawaf merupakan salah satu rukun penting dalam ibadah haji dan umrah yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Dalam pelaksanaannya, jemaah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dengan arah berlawanan jarum jam, dimulai dari posisi Hajar Aswad.
Meski sudah menjadi bagian dari ibadah yang umum dikenal, sebagian orang mungkin bertanya-tanya mengapa tawaf dilakukan dengan arah tersebut, serta apa alasan jumlah putarannya ditetapkan sebanyak tujuh kali. Selain memiliki dasar syariat yang jelas, para ulama juga menjelaskan berbagai hikmah yang dapat dipahami dari pelaksanaan ibadah ini.
Sejarah Pelaksanaan Tawaf dalam Islam
Tawaf bukanlah ibadah yang baru muncul dalam ajaran Islam. Dalam literatur fikih, dijelaskan bahwa praktik mengelilingi Ka’bah telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu.
Setelah pembangunan Ka’bah selesai pada masa Nabi Adam AS, beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk melakukan tawaf sebanyak tujuh kali. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para malaikat yang melakukan ibadah serupa di Baitullah di bumi serta di Bayt al-Ma’mur di langit.
Dalam perjalanan sejarahnya, Nabi Ibrahim AS bersama Nabi Ismail AS juga melaksanakan tawaf setelah menyelesaikan pembangunan kembali Ka’bah. Demikian pula Nabi-nabi lain seperti Nabi Hud AS dan Nabi Saleh AS disebutkan pernah menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
Namun, sebelum datangnya Islam, praktik tawaf pada masyarakat Arab mengalami penyimpangan. Mereka melakukannya dengan cara yang tidak sesuai tuntunan, seperti bersiul, bertepuk tangan, bahkan tanpa menutup aurat. Hal ini kemudian dikoreksi oleh Islam dan diluruskan sesuai syariat yang dibawa Rasulullah SAW.
Dalil dan Tata Cara Tawaf
Dalam pelaksanaan tawaf, Ka’bah harus berada di sisi kiri orang yang mengelilinginya, dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di titik yang sama setelah tujuh putaran.
Pada tiga putaran pertama, laki-laki disunnahkan untuk berjalan cepat atau berlari kecil, sementara empat putaran berikutnya dilakukan dengan berjalan biasa. Tata cara ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari sunnah yang diikuti umat Islam hingga sekarang.
Jumlah tujuh putaran bukanlah hasil perhitungan manusia, melainkan ketetapan syariat yang harus diikuti tanpa perubahan.
Mengapa Tawaf Dilakukan Tujuh Kali?
Penetapan tujuh putaran dalam tawaf merupakan bagian dari ibadah yang bersifat tauqifi, yaitu ditentukan berdasarkan wahyu dan contoh dari Rasulullah SAW.
Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan tawaf dengan pola tiga putaran pertama lebih cepat, kemudian dilanjutkan dengan empat putaran berikutnya secara normal. Hal ini kemudian menjadi pedoman bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah tawaf.
Dengan demikian, angka tujuh dalam tawaf bukanlah simbol yang ditentukan secara logis, melainkan bentuk ketaatan terhadap tuntunan agama.
Arah Tawaf Berlawanan Jarum Jam dan Perspektif Alam
Secara syariat, tawaf dilakukan dengan arah berlawanan jarum jam karena itulah cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Mengubah arah tersebut berarti mengubah tata cara ibadah yang telah ditetapkan.
Menariknya, sebagian penulis dan pengkaji Islam melihat adanya keselarasan antara arah tawaf dengan pola gerakan berbagai objek di alam semesta.
Berbagai fenomena alam menunjukkan pola pergerakan yang teratur, seperti:
- Elektron yang mengelilingi inti atom
- Bulan yang mengorbit bumi
- Bumi yang bergerak mengelilingi matahari
- Planet-planet dalam tata surya
- Sistem galaksi yang bergerak dalam orbit tertentu
Sebagian pengamatan menyebutkan bahwa banyak dari gerakan tersebut memiliki pola rotasi yang serupa dengan arah tawaf jika dilihat dari sudut tertentu.
Dari sudut pandang ini, tawaf dipahami sebagai simbol harmoni antara manusia dan keteraturan alam semesta dalam beribadah kepada Allah SWT.
Hikmah di Balik Ibadah Tawaf
Lebih dari sekadar gerakan mengelilingi Ka’bah, tawaf memiliki makna spiritual yang mendalam. Ibadah ini menggambarkan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim berpusat pada Allah SWT, sebagaimana jemaah mengelilingi Ka’bah sebagai pusat ibadah.
Tawaf juga menjadi simbol persatuan umat Islam. Jutaan jemaah dari berbagai negara, bahasa, dan latar belakang bergerak dalam satu arah yang sama, menunjukkan kesetaraan dan kebersamaan di hadapan Allah SWT.
Pada akhirnya, alasan utama tawaf dilakukan tujuh kali dan dengan arah berlawanan jarum jam adalah karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang bersifat wajib dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah.
Adapun berbagai penjelasan lain yang mengaitkannya dengan fenomena alam dapat dipahami sebagai hikmah tambahan yang memperkaya wawasan, tanpa mengubah esensi utama bahwa tawaf adalah bentuk ketaatan total kepada Allah SWT.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















