BOGORTODAY.COM – Di era digital saat ini, informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Berita dari berbagai penjuru dunia terus bermunculan melalui televisi, situs berita, hingga media sosial. Namun, di tengah derasnya arus informasi tersebut, semakin banyak orang yang justru memilih menjauh dari berita.
Fenomena ini bukan selalu disebabkan oleh kurangnya minat terhadap isu terkini atau rendahnya tingkat literasi. Dalam ilmu psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai news fatigue, yaitu kelelahan mental akibat paparan informasi yang terus-menerus, terutama informasi yang bersifat negatif.
Semakin Banyak Orang Menghindari Berita
Laporan terbaru mengenai konsumsi media digital menunjukkan bahwa tren menghindari berita semakin meningkat di berbagai negara. Sebagian besar responden mengaku sengaja membatasi atau bahkan menghindari berita karena merasa kewalahan dengan banyaknya informasi yang diterima setiap hari.
Di sejumlah negara, tingkat penghindaran berita bahkan mencapai lebih dari setengah populasi yang disurvei. Sementara itu, negara-negara dengan tingkat konsumsi berita yang relatif stabil menunjukkan angka penghindaran yang jauh lebih rendah.
Data tersebut mengindikasikan bahwa kelelahan terhadap informasi bukan lagi fenomena individual, melainkan menjadi tantangan global di era komunikasi modern.
Otak Manusia Cenderung Lebih Fokus pada Hal Negatif
Salah satu alasan mengapa berita dapat terasa melelahkan berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Psikologi mengenal istilah negativity bias atau bias negatif, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan, mengingat, dan merespons pengalaman buruk dibandingkan pengalaman positif.
Kecenderungan ini sebenarnya merupakan warisan evolusi. Pada masa lampau, kemampuan mengenali ancaman dengan cepat sangat penting untuk bertahan hidup. Individu yang lebih waspada terhadap bahaya memiliki peluang lebih besar untuk selamat dan mewariskan sifat tersebut kepada generasi berikutnya.
Akibatnya, hingga saat ini manusia masih memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap informasi yang mengandung unsur ancaman, konflik, bencana, atau krisis.
Dalam konteks media, berita negatif sering kali lebih mudah menarik perhatian karena dianggap lebih penting untuk diketahui. Bahkan, banyak orang secara tidak sadar menganggap informasi bernada buruk lebih kredibel dibandingkan berita yang bersifat positif.
Dampak Berita Negatif terhadap Kondisi Mental dan Fisik
Paparan berita negatif yang berlangsung terus-menerus tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat menimbulkan reaksi fisik.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa tubuh manusia dapat menunjukkan respons stres saat menerima informasi yang dianggap mengancam, bahkan sebelum seseorang benar-benar memproses informasi tersebut secara sadar. Jantung bisa berdetak lebih cepat, otot menjadi tegang, dan tingkat kecemasan meningkat.
Kondisi ini menjadi lebih serius ketika seseorang mengalami apa yang disebut sebagai problematic news consumption (PNC), yaitu pola konsumsi berita yang berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.
Orang yang mengalami kondisi tersebut biasanya merasa sulit berhenti memantau perkembangan berita, terus-menerus memeriksa pembaruan informasi, dan mengalami kecemasan jika tidak mengetahui peristiwa terbaru. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi kualitas tidur, produktivitas, hingga kesehatan mental secara keseluruhan.
Kelompok Tertentu Bisa Merasakan Dampak yang Lebih Besar
Efek psikologis dari berita negatif tidak selalu dirasakan sama oleh setiap individu. Kelompok masyarakat yang memiliki kedekatan emosional dengan isu tertentu sering kali mengalami tekanan yang lebih besar.
Misalnya, ketika berita menyangkut diskriminasi, konflik sosial, atau kekerasan terhadap kelompok tertentu, individu yang merasa memiliki identitas atau pengalaman serupa dapat merasakan dampak emosional yang lebih kuat, meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.
Karena itu, konsumsi berita yang berlebihan dapat memperburuk stres dan kecemasan pada kelompok yang lebih rentan secara psikologis.
Apakah Menghindari Berita Menjadi Solusi?
Meski terasa melelahkan, sepenuhnya menjauhi berita bukanlah langkah yang ideal. Informasi yang akurat tetap penting untuk membantu masyarakat memahami situasi di sekitar mereka, mengambil keputusan, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun demokrasi.
Yang perlu dilakukan bukanlah menghindari informasi, melainkan mengelola cara mengonsumsinya.
Membatasi waktu membaca berita dapat menjadi langkah awal yang efektif. Misalnya, menentukan waktu tertentu setiap hari untuk mengikuti perkembangan informasi dan menghindari kebiasaan memeriksa berita secara terus-menerus.
Selain itu, memilih sumber informasi yang kredibel dan menyajikan analisis mendalam juga lebih bermanfaat dibandingkan mengandalkan potongan informasi singkat yang beredar di media sosial.
Pentingnya Menjadi Konsumen Informasi yang Bijak
Di tengah banjir informasi digital, kemampuan menyaring dan mengelola berita menjadi keterampilan yang semakin penting. Tidak semua informasi perlu dikonsumsi secara bersamaan, dan tidak semua konten layak mendapatkan perhatian yang sama.
Masyarakat juga perlu lebih waspada terhadap konten yang sengaja dibuat provokatif hanya untuk menarik klik, komentar, atau interaksi di media sosial. Paparan berulang terhadap konten semacam ini dapat memperparah rasa cemas dan mempercepat munculnya news fatigue.
Fenomena news fatigue menunjukkan bahwa otak manusia memiliki batas dalam menerima dan memproses informasi. Paparan berita yang terlalu banyak, terutama yang bernada negatif, dapat memicu kelelahan mental, meningkatkan stres, dan bahkan memengaruhi kondisi fisik.
Meski demikian, solusi terbaik bukanlah menutup diri dari informasi. Dengan mengatur waktu konsumsi berita, memilih sumber yang terpercaya, dan menghindari konten yang bersifat provokatif, masyarakat tetap dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan tanpa harus terjebak dalam kelelahan akibat banjir informasi.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat dengan berita bukan tentang mengetahui segalanya setiap saat, melainkan memahami informasi yang benar pada waktu yang tepat.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















