Mengapa Banyak Orang Mulai Menghindari Berita? Mengenal Fenomena News Fatigue dari Sisi Psikologi

Berita
Ilustrasi Membaca Berita Online. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Di era digital saat ini, informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Berita dari berbagai penjuru dunia terus bermunculan melalui televisi, situs berita, hingga media sosial. Namun, di tengah derasnya arus informasi tersebut, semakin banyak orang yang justru memilih menjauh dari berita.

Fenomena ini bukan selalu disebabkan oleh kurangnya minat terhadap isu terkini atau rendahnya tingkat literasi. Dalam ilmu psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai news fatigue, yaitu kelelahan mental akibat paparan informasi yang terus-menerus, terutama informasi yang bersifat negatif.

Semakin Banyak Orang Menghindari Berita

Laporan terbaru mengenai konsumsi media digital menunjukkan bahwa tren menghindari berita semakin meningkat di berbagai negara. Sebagian besar responden mengaku sengaja membatasi atau bahkan menghindari berita karena merasa kewalahan dengan banyaknya informasi yang diterima setiap hari.

Di sejumlah negara, tingkat penghindaran berita bahkan mencapai lebih dari setengah populasi yang disurvei. Sementara itu, negara-negara dengan tingkat konsumsi berita yang relatif stabil menunjukkan angka penghindaran yang jauh lebih rendah.

BACA JUGA :  Cuaca Panas Ekstrem, Waspadai Dehidrasi! Ini 7 Minuman Terbaik untuk Jaga Cairan Tubuh

Data tersebut mengindikasikan bahwa kelelahan terhadap informasi bukan lagi fenomena individual, melainkan menjadi tantangan global di era komunikasi modern.

Otak Manusia Cenderung Lebih Fokus pada Hal Negatif

Salah satu alasan mengapa berita dapat terasa melelahkan berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Psikologi mengenal istilah negativity bias atau bias negatif, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan, mengingat, dan merespons pengalaman buruk dibandingkan pengalaman positif.

Kecenderungan ini sebenarnya merupakan warisan evolusi. Pada masa lampau, kemampuan mengenali ancaman dengan cepat sangat penting untuk bertahan hidup. Individu yang lebih waspada terhadap bahaya memiliki peluang lebih besar untuk selamat dan mewariskan sifat tersebut kepada generasi berikutnya.

Akibatnya, hingga saat ini manusia masih memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap informasi yang mengandung unsur ancaman, konflik, bencana, atau krisis.

Dalam konteks media, berita negatif sering kali lebih mudah menarik perhatian karena dianggap lebih penting untuk diketahui. Bahkan, banyak orang secara tidak sadar menganggap informasi bernada buruk lebih kredibel dibandingkan berita yang bersifat positif.

BACA JUGA :  Kemensos Usulkan Lansia dan Disabilitas Masuk Program MBG

Dampak Berita Negatif terhadap Kondisi Mental dan Fisik

Paparan berita negatif yang berlangsung terus-menerus tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat menimbulkan reaksi fisik.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa tubuh manusia dapat menunjukkan respons stres saat menerima informasi yang dianggap mengancam, bahkan sebelum seseorang benar-benar memproses informasi tersebut secara sadar. Jantung bisa berdetak lebih cepat, otot menjadi tegang, dan tingkat kecemasan meningkat.

Kondisi ini menjadi lebih serius ketika seseorang mengalami apa yang disebut sebagai problematic news consumption (PNC), yaitu pola konsumsi berita yang berlebihan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari.

Orang yang mengalami kondisi tersebut biasanya merasa sulit berhenti memantau perkembangan berita, terus-menerus memeriksa pembaruan informasi, dan mengalami kecemasan jika tidak mengetahui peristiwa terbaru. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi kualitas tidur, produktivitas, hingga kesehatan mental secara keseluruhan.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================