
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ، وَزِدْنَا مِنْهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُجْزِئُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ غَيْرَ اللَّبَنِ
Latin:
Allahumma barik lana fihi, wazidna minhu fa innahu laisa syai’un yujzi’u minath-tha’ami wasy-syarabi ghairal laban.
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami dalam susu ini dan tambahkanlah karunia-Mu kepada kami, karena tidak ada sesuatu yang dapat menggantikan fungsi makanan dan minuman sekaligus selain susu.”
Doa ini menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT sekaligus pengakuan terhadap keistimewaan susu sebagai salah satu makanan yang bernilai gizi tinggi.
Tradisi Minum Susu Putih pada 1 Muharram
Di Arab Saudi, khususnya di kalangan masyarakat yang mengikuti tradisi para ulama setempat, meminum susu putih pada pagi hari tanggal 1 Muharram telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Warna putih pada susu dimaknai sebagai simbol kesucian, kebersihan hati, dan harapan agar perjalanan hidup selama satu tahun ke depan dipenuhi kebaikan.
Tidak hanya susu, sebagian masyarakat juga mengonsumsi minuman berwarna hijau pada siang hari, seperti teh herbal atau minuman yang dicampur madu. Warna hijau dipandang sebagai lambang keberkahan, kesuburan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Apakah Minum Susu 1 Muharram Termasuk Sunnah?
Penting untuk dipahami bahwa tidak terdapat dalil khusus yang menyatakan bahwa meminum susu pada tanggal 1 Muharram merupakan sunnah Rasulullah SAW. Tradisi tersebut lebih tepat dipahami sebagai bentuk tafa’ul, yaitu mengharap kebaikan melalui simbol atau kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariat.
Beberapa ulama Makkah diketahui mengamalkan kebiasaan ini, di antaranya Al-Habib Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Beliau sering membagikan susu kepada para muridnya saat memasuki Tahun Baru Hijriah sebagai simbol doa dan harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberkahan.
Dengan demikian, meminum susu pada 1 Muharram bukanlah kewajiban maupun sunnah yang harus dilakukan. Namun, selama diniatkan sebagai bentuk doa, rasa syukur, dan harapan akan kebaikan tanpa meyakini adanya keutamaan khusus yang disyariatkan, tradisi ini dapat dipandang sebagai bagian dari budaya keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat Muslim.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














