
BOGORTODAY.COM – Menonton Backrooms (2026) bisa diibaratkan seperti memasuki ruang pemeriksaan medis yang sempit dan bising, di mana seseorang harus bertahan dalam tekanan tanpa benar-benar memahami apa hasil akhirnya. Film ini membawa penonton pada pengalaman yang tidak hanya tidak nyaman, tetapi juga penuh interpretasi yang terbuka.
Adaptasi dari fenomena horor internet The Backrooms yang populer sejak 2019 ini dikembangkan dari karya awal Kane Parsons yang sebelumnya dikenal melalui serial webnya. Versi layar lebarnya mencoba memperluas konsep tersebut menjadi cerita berdurasi penuh, dengan pendekatan yang lebih serius dan sinematik.
Adaptasi yang Ambisius, Tapi Tidak Sederhana
Skenario film ini ditulis oleh Will Soodik, yang tampaknya berusaha merangkai dunia absurd khas Backrooms menjadi narasi yang lebih terstruktur. Namun, alih-alih menjadi cerita yang benar-benar jelas, alur yang disajikan justru terasa seperti labirin tanpa ujung yang saling terhubung secara longgar.
Narasi yang dibangun seolah mencerminkan konsep ruang Backrooms itu sendiri: berlapis, berulang, dan sulit dipetakan. Penonton diajak mengikuti perjalanan yang tidak selalu memberikan arah yang pasti, melainkan lebih menekankan pengalaman daripada penjelasan.
Atmosfer Jadi Kekuatan Utama
Jika ada satu aspek yang paling menonjol, maka itu adalah atmosfer film. Desain produksi berhasil membangun ruang-ruang yang terasa luas namun sekaligus menyesakkan. Setiap lorong dan ruangan dirancang untuk menciptakan rasa tidak nyaman yang konsisten sepanjang film.
Tim artistik, termasuk pencahayaan dan tata rias, memainkan peran besar dalam membangun suasana tersebut. Alih-alih menggunakan pendekatan horor gelap konvensional, film ini justru memanfaatkan pencahayaan yang aneh dan tidak natural untuk memperkuat kesan asing dan tidak stabil.
Hasilnya, penonton benar-benar merasa seperti berada dalam dunia yang tidak seharusnya ada.
Sinematografi dan Musik yang Menguatkan Ketegangan
Dari sisi visual, Jeremy Cox sebagai sinematografer berhasil menangkap nuansa ganjil yang menjadi inti film ini. Penggunaan kamera yang bervariasi—mulai dari teknik standar hingga rekaman bergaya dokumenter dan efek visual tertentu—membuat pengalaman menonton terasa tidak stabil dan menegangkan.
Elemen audio juga memainkan peran penting. Musik latar yang dikembangkan oleh Kane Parsons bersama Edo Van Breemen menghadirkan suasana yang tidak nyaman melalui distorsi suara dan ritme yang tidak biasa. Dalam beberapa momen, musik bahkan terasa seperti sinyal peringatan yang meningkatkan ketegangan sebelum adegan tertentu terjadi.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















