Review Film Backrooms (2026): Terjebak dalam Ruang Sunyi yang Membingungkan dan Mengganggu

Backrooms
 Review Film Backrooms (2026): Terjebak dalam Ruang Sunyi yang Membingungkan dan Mengganggu. (A24/21 Laps Entertainment)

BOGORTODAY.COM – Menonton Backrooms (2026) bisa diibaratkan seperti memasuki ruang pemeriksaan medis yang sempit dan bising, di mana seseorang harus bertahan dalam tekanan tanpa benar-benar memahami apa hasil akhirnya. Film ini membawa penonton pada pengalaman yang tidak hanya tidak nyaman, tetapi juga penuh interpretasi yang terbuka.

Adaptasi dari fenomena horor internet The Backrooms yang populer sejak 2019 ini dikembangkan dari karya awal Kane Parsons yang sebelumnya dikenal melalui serial webnya. Versi layar lebarnya mencoba memperluas konsep tersebut menjadi cerita berdurasi penuh, dengan pendekatan yang lebih serius dan sinematik.

Adaptasi yang Ambisius, Tapi Tidak Sederhana

Skenario film ini ditulis oleh Will Soodik, yang tampaknya berusaha merangkai dunia absurd khas Backrooms menjadi narasi yang lebih terstruktur. Namun, alih-alih menjadi cerita yang benar-benar jelas, alur yang disajikan justru terasa seperti labirin tanpa ujung yang saling terhubung secara longgar.

Narasi yang dibangun seolah mencerminkan konsep ruang Backrooms itu sendiri: berlapis, berulang, dan sulit dipetakan. Penonton diajak mengikuti perjalanan yang tidak selalu memberikan arah yang pasti, melainkan lebih menekankan pengalaman daripada penjelasan.

Atmosfer Jadi Kekuatan Utama

Jika ada satu aspek yang paling menonjol, maka itu adalah atmosfer film. Desain produksi berhasil membangun ruang-ruang yang terasa luas namun sekaligus menyesakkan. Setiap lorong dan ruangan dirancang untuk menciptakan rasa tidak nyaman yang konsisten sepanjang film.

BACA JUGA :  Seberapa Sering Tubuh Perlu Terhidrasi? Ini Penjelasan Dokter

Tim artistik, termasuk pencahayaan dan tata rias, memainkan peran besar dalam membangun suasana tersebut. Alih-alih menggunakan pendekatan horor gelap konvensional, film ini justru memanfaatkan pencahayaan yang aneh dan tidak natural untuk memperkuat kesan asing dan tidak stabil.

Hasilnya, penonton benar-benar merasa seperti berada dalam dunia yang tidak seharusnya ada.

Sinematografi dan Musik yang Menguatkan Ketegangan

Dari sisi visual, Jeremy Cox sebagai sinematografer berhasil menangkap nuansa ganjil yang menjadi inti film ini. Penggunaan kamera yang bervariasi—mulai dari teknik standar hingga rekaman bergaya dokumenter dan efek visual tertentu—membuat pengalaman menonton terasa tidak stabil dan menegangkan.

Elemen audio juga memainkan peran penting. Musik latar yang dikembangkan oleh Kane Parsons bersama Edo Van Breemen menghadirkan suasana yang tidak nyaman melalui distorsi suara dan ritme yang tidak biasa. Dalam beberapa momen, musik bahkan terasa seperti sinyal peringatan yang meningkatkan ketegangan sebelum adegan tertentu terjadi.

Namun, ada pula pendekatan yang menarik: di beberapa bagian, penggunaan suara justru bisa menjadi “petunjuk” emosional bagi penonton untuk bersiap menghadapi situasi berikutnya.

Akting yang Menjadi Penopang Emosi Film

Di tengah narasi yang membingungkan, penampilan para aktor menjadi salah satu elemen yang menjaga film tetap hidup. Chiwetel Ejiofor tampil kuat dalam memerankan karakter yang berada dalam tekanan psikologis, membawa emosi kecemasan yang terasa nyata dan menular ke penonton.

BACA JUGA :  Mengapa Banyak Orang Mulai Menghindari Berita? Mengenal Fenomena News Fatigue dari Sisi Psikologi

Sementara itu, karakter yang diperankan Renate Reinsve memberikan dimensi tambahan pada cerita, meskipun perannya terasa kurang dieksplorasi secara mendalam. Interaksi antar karakter sebenarnya memiliki potensi besar, namun tidak selalu dikembangkan secara maksimal dalam naskah.

Cerita yang Terbuka untuk Interpretasi

Salah satu hal yang paling menonjol dari Backrooms (2026) adalah cara film ini menutup ceritanya. Tidak ada jawaban pasti atau penjelasan final yang benar-benar mengikat seluruh peristiwa yang terjadi.

Sebaliknya, film ini memilih untuk membiarkan penonton menafsirkan sendiri maknanya. Ada yang merasa mendapatkan pemahaman, ada yang justru semakin bingung, dan ada pula yang membawa pulang lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Pendekatan ini mungkin disengaja, sejalan dengan konsep “Backrooms” itu sendiri yang identik dengan ruang tanpa akhir dan tanpa kepastian.

Backrooms (2026) adalah film yang lebih mengutamakan pengalaman atmosfer ketimbang alur cerita yang konvensional. Kekuatan terbesarnya terletak pada desain produksi, sinematografi, dan sound design yang berhasil menciptakan rasa tidak nyaman secara konsisten.

Namun, bagi sebagian penonton, pendekatan naratif yang terlalu abstrak bisa menjadi tantangan tersendiri. Film ini bukan tontonan yang menawarkan jawaban, melainkan pengalaman yang mengajak penonton untuk tersesat di dalamnya.

Pada akhirnya, Backrooms (2026) bukan tentang menemukan jalan keluar, tetapi tentang merasakan bagaimana rasanya tidak pernah benar-benar tahu di mana Anda berada.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================