Sering Sembelit Meski Sudah Banyak Makan Serat? Ini 6 Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Sembelit
Ilustrasi Sembelit. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Sembelit merupakan salah satu gangguan pencernaan yang cukup sering dialami banyak orang. Kondisi ini ditandai dengan frekuensi buang air besar yang berkurang, tinja yang keras, serta proses buang air besar yang terasa sulit dan tidak nyaman.

Selama ini, kurangnya asupan serat sering dianggap sebagai penyebab utama sembelit. Karena itu, banyak orang berusaha mengatasinya dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan makanan tinggi serat lainnya. Namun, tidak sedikit yang tetap mengalami sembelit meski pola makan sudah diperbaiki.

Jika kondisi tersebut terjadi, ada kemungkinan penyebabnya bukan lagi sekadar kekurangan serat. Beberapa faktor kesehatan dan gaya hidup berikut juga dapat memicu sembelit yang berlangsung berulang.

  1. Kurang Aktivitas Fisik

Olahraga tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga berperan penting dalam mendukung sistem pencernaan. Aktivitas fisik membantu merangsang gerakan usus sehingga proses pembuangan sisa makanan menjadi lebih lancar.

Ketika seseorang jarang bergerak atau terlalu banyak duduk, otot-otot perut dan diafragma yang berperan dalam proses buang air besar menjadi kurang optimal. Akibatnya, tinja lebih sulit dikeluarkan dan sembelit pun lebih mudah terjadi.

  1. Terlalu Sering Mengonsumsi Obat Pencahar

Banyak orang mengandalkan obat pencahar atau laksatif untuk mengatasi sembelit secara cepat. Padahal, penggunaan laksatif yang berlebihan justru dapat menimbulkan efek sebaliknya.

BACA JUGA :  Kebiasaan Penumpang yang Kerap Membuat Pramugari Kesal, Nomor 3 Paling Sering Terjadi

Jika digunakan terus-menerus tanpa pengawasan medis, usus bisa menjadi bergantung pada obat tersebut. Kondisi ini membuat kemampuan alami usus untuk mendorong tinja berkurang sehingga sembelit menjadi semakin sulit diatasi.

  1. Sindrom Iritasi Usus (IBS)

Sembelit juga bisa menjadi salah satu gejala dari Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus. Gangguan ini memengaruhi cara kerja usus besar dan sering menimbulkan berbagai keluhan pencernaan.

Penderita IBS dapat mengalami perut kembung, nyeri perut, perubahan pola buang air besar, hingga sembelit berkepanjangan. Pada sebagian orang, IBS bahkan dapat bergantian menyebabkan diare dan sembelit.

  1. Gangguan Tiroid atau Hipotiroidisme

Hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon dalam jumlah yang cukup. Kondisi ini menyebabkan metabolisme tubuh melambat, termasuk proses kerja sistem pencernaan.

Akibatnya, pergerakan usus menjadi lebih lambat sehingga tinja tertahan lebih lama di dalam usus dan menyebabkan sembelit. Selain sulit buang air besar, penderita hipotiroidisme biasanya juga mengalami kelelahan, kulit kering, berat badan meningkat, rambut menipis, serta mudah merasa kedinginan.

  1. Diabetes

Diabetes tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat berdampak pada sistem saraf yang mengatur kerja organ pencernaan. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang berpotensi merusak saraf-saraf tersebut.

Ketika saraf pencernaan terganggu, pergerakan usus menjadi lebih lambat dan risiko sembelit meningkat. Gejala lain yang sering menyertai diabetes antara lain rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, tubuh mudah lelah, penglihatan kabur, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

  1. Stres dan Gangguan Kecemasan
BACA JUGA :  5 Peristiwa Bersejarah di Bulan Muharram yang Memiliki Makna Besar bagi Umat Islam

Kesehatan mental ternyata juga memiliki hubungan erat dengan kesehatan pencernaan. Saat seseorang mengalami stres atau kecemasan berlebihan, sistem saraf tubuh dapat memengaruhi fungsi usus dan memperlambat proses pencernaan.

Akibatnya, tinja bergerak lebih lambat di dalam saluran pencernaan dan memicu sembelit. Selain gangguan buang air besar, kecemasan biasanya disertai gejala seperti sulit tidur, gelisah, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan rasa khawatir yang berlebihan.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Sembelit yang terjadi sesekali umumnya tidak berbahaya dan dapat membaik dengan perubahan pola makan serta gaya hidup. Namun, jika keluhan berlangsung lama, sering kambuh, atau disertai gejala lain seperti penurunan berat badan, nyeri hebat, hingga adanya darah pada tinja, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti dan memastikan tidak ada gangguan kesehatan yang lebih serius di balik sembelit yang dialami.

Menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, mencukupi kebutuhan cairan, serta mengelola stres dengan baik dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah sembelit berulang.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================