BOGORTODAY.COM – Golongan darah selama ini dikenal sebagai informasi penting saat seseorang membutuhkan transfusi darah atau menjalani transplantasi organ.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa jenis golongan darah juga diduga memiliki kaitan dengan risiko beberapa penyakit, termasuk stroke yang terjadi pada usia muda.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa golongan darah bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan seseorang mengalami stroke. Gaya hidup, kondisi kesehatan, dan faktor genetik lainnya tetap memiliki peran yang jauh lebih besar.
Mengenal Sistem Golongan Darah
Golongan darah ditentukan berdasarkan keberadaan antigen A dan antigen B pada permukaan sel darah merah. Selain itu, darah juga dikelompokkan berdasarkan faktor Rhesus (Rh), yaitu protein yang terdapat pada permukaan sel darah merah.
Jika protein Rh ditemukan, maka golongan darah dikategorikan sebagai rhesus positif (+). Sebaliknya, jika tidak ada, maka termasuk rhesus negatif (-).
Secara umum terdapat delapan jenis golongan darah, yaitu:
- A+
- A-
- B+
- B-
- AB+
- AB-
- O+
- O-
Mengetahui golongan darah sangat penting untuk memastikan keamanan saat transfusi darah maupun tindakan medis lainnya.
Penelitian Menemukan Hubungan dengan Stroke Usia Muda
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada 2022 menemukan adanya hubungan antara variasi genetik golongan darah tertentu dengan meningkatnya risiko stroke sebelum usia 60 tahun.
Penelitian tersebut menganalisis data genetik dari sekitar 17.000 pasien stroke dan hampir 600.000 orang tanpa riwayat stroke yang berusia 18 hingga 59 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang memiliki varian genetik A1 memiliki kemungkinan sekitar 16 persen lebih tinggi mengalami stroke pada usia muda dibandingkan kelompok golongan darah lainnya.
Sebaliknya, pemilik varian genetik O1 diketahui memiliki risiko sekitar 12 persen lebih rendah mengalami stroke dini.
Perlu diketahui, A1 dan O1 bukanlah golongan darah baru, melainkan variasi genetik yang lebih spesifik dalam sistem ABO dan tidak umum diketahui masyarakat.
Mengapa Golongan Darah Bisa Berpengaruh?
Para peneliti menduga kaitan tersebut berhubungan dengan mekanisme pembekuan darah.
Golongan darah tertentu diduga memengaruhi aktivitas trombosit, protein pembekuan darah, serta lapisan pembuluh darah yang berperan dalam terbentuknya bekuan darah. Namun hingga kini mekanisme pastinya masih terus diteliti.
Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara golongan darah A dan stroke jauh lebih terlihat pada kelompok usia muda dibandingkan mereka yang berusia di atas 60 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa penyebab stroke pada usia muda kemungkinan berbeda dengan stroke yang umum terjadi pada lansia. Pada kelompok muda, gangguan pembekuan darah diduga lebih dominan dibanding penyumbatan akibat penumpukan plak lemak di pembuluh darah.
Selain golongan darah A, penelitian juga menemukan bahwa pemilik golongan darah B memiliki risiko sekitar 11 persen lebih tinggi mengalami stroke dibandingkan golongan darah lainnya.
Jangan Terlalu Khawatir
Walaupun hasil penelitian cukup menarik, para ilmuwan mengingatkan bahwa peningkatan risiko tersebut tergolong kecil.
Artinya, seseorang yang memiliki golongan darah A atau B tidak otomatis akan mengalami stroke. Saat ini belum ada rekomendasi medis agar masyarakat melakukan pemeriksaan khusus hanya berdasarkan jenis golongan darah.
Sebaliknya, menjaga tekanan darah tetap normal, mengontrol kadar gula darah, menghindari rokok, rutin berolahraga, serta menerapkan pola makan sehat tetap menjadi langkah paling efektif untuk menurunkan risiko stroke.
Apa Itu Stroke?
Stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah menuju otak terhenti akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah.
Secara umum terdapat dua jenis stroke, yaitu:
- Stroke iskemik, yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah menuju otak.
- Stroke hemoragik, yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah sehingga menimbulkan perdarahan di dalam otak.
Ketika aliran darah terganggu, sel-sel otak akan kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian.
Gejala stroke biasanya muncul secara mendadak, seperti wajah mencong, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, hingga sakit kepala hebat yang disertai mual dan penurunan kesadaran, terutama pada stroke akibat perdarahan.
Penelitian terbaru memberikan gambaran bahwa variasi genetik dalam sistem golongan darah mungkin memiliki hubungan dengan risiko stroke, khususnya pada usia muda. Namun, hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih beragam.
Yang terpenting, risiko stroke tetap dipengaruhi oleh banyak faktor. Menjalani gaya hidup sehat, rutin memeriksakan kesehatan, serta mengendalikan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi tetap menjadi cara terbaik untuk mencegah penyakit ini.
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















