
BOGORTODAY.COM – Nyeri lutut kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Banyak orang memilih menahannya atau sekadar mengonsumsi obat pereda nyeri tanpa mencari tahu penyebabnya. Padahal, rasa sakit yang terus muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari bisa menjadi tanda osteoartritis, salah satu penyakit sendi yang paling banyak dialami masyarakat.
Osteoartritis merupakan gangguan degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan pada sendi mengalami kerusakan secara bertahap. Padahal, tulang rawan berfungsi sebagai bantalan alami yang membuat pergerakan antartulang tetap halus dan tidak menimbulkan gesekan.
Saat bantalan tersebut menipis atau rusak, tulang akan saling bergesekan sehingga memicu rasa nyeri, peradangan, hingga kekakuan pada sendi. Lutut menjadi bagian tubuh yang paling rentan mengalami kondisi ini karena setiap hari menopang beban tubuh saat berjalan, berdiri, berlari, maupun menaiki tangga.
Gejala Berkembang Secara Perlahan
Osteoartritis biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Pada tahap awal, kerusakan tulang rawan sering kali belum menimbulkan keluhan sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisinya.
Seiring waktu, gejala mulai terasa. Nyeri pada lutut biasanya muncul ketika berjalan, berdiri dalam waktu lama, atau naik turun tangga. Selain itu, lutut juga terasa kaku, terutama setelah bangun tidur atau setelah duduk terlalu lama.
Beberapa tanda lain yang patut diwaspadai meliputi:
- Lutut tampak membengkak.
- Muncul suara berderak atau gesekan saat sendi digerakkan.
- Lutut terasa tidak stabil.
- Sendi terkadang seperti terkunci sehingga sulit digerakkan.
Tingkat keparahan osteoartritis umumnya dibagi menjadi empat stadium. Pada tahap awal, kerusakan masih ringan dan gejalanya hampir tidak terasa. Memasuki stadium ringan hingga sedang, nyeri mulai muncul disertai keterbatasan gerak.
Sementara pada stadium lanjut, bantalan sendi hampir habis sehingga tulang saling bergesekan dan menyebabkan nyeri hebat yang dapat menghambat aktivitas sehari-hari.
Faktor yang Meningkatkan Risiko
Penuaan menjadi penyebab utama terjadinya osteoartritis. Namun, sejumlah faktor lain juga dapat mempercepat kerusakan sendi.
Kelebihan berat badan menjadi salah satu faktor terbesar karena lutut harus menopang beban tubuh yang lebih berat. Selain itu, riwayat cedera lutut, aktivitas yang memberikan tekanan berulang pada sendi, kelainan bentuk tungkai, hingga faktor genetik juga berkontribusi meningkatkan risiko penyakit ini.
Jika tidak ditangani dengan baik, osteoartritis dapat menimbulkan berbagai komplikasi, seperti melemahnya otot di sekitar lutut, munculnya taji tulang, terbentuknya kista Baker di belakang lutut, hingga gangguan psikologis akibat nyeri kronis yang berkepanjangan.
Penanganan Disesuaikan dengan Tingkat Keparahan
Terapi osteoartritis bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Pada tahap awal, dokter umumnya menyarankan perubahan gaya hidup, seperti menjaga berat badan tetap ideal, rutin berolahraga, menjalani fisioterapi, serta menggunakan obat pereda nyeri jika diperlukan.
Namun, apabila kerusakan sendi sudah berat dan terapi konservatif tidak lagi efektif mengurangi keluhan, operasi penggantian sendi lutut atau total knee replacement (TKR) dapat menjadi pilihan.
Teknologi Robotik Tingkatkan Presisi Operasi
Kemajuan teknologi kini turut mendukung keberhasilan operasi penggantian sendi lutut. Salah satunya melalui CORI Robotic Surgical System, teknologi robotik yang membantu dokter memetakan anatomi lutut pasien dalam bentuk tiga dimensi secara langsung selama prosedur berlangsung.
Dengan pemetaan tersebut, dokter dapat menentukan ukuran implan, posisi pemasangan, serta sudut pemotongan tulang secara lebih akurat sehingga hasil operasi diharapkan lebih optimal.
Dokter Spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Bali, Erwin Saspraditya, menjelaskan bahwa penggunaan teknologi robotik memberikan tingkat presisi yang lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.
Menurutnya, teknologi CORI memungkinkan tindakan bedah dilakukan dengan pemotongan jaringan yang lebih minimal, mengurangi perdarahan, serta membantu dokter mengevaluasi kondisi ligamen secara objektif. Hal ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan sekaligus meningkatkan kualitas hasil operasi.
Pendapat serupa disampaikan Sales Director Advance Treatment Tawada Healthcare, Rosmiaty Tio. Ia menjelaskan bahwa sistem robotik tersebut mampu memetakan struktur tulang pasien secara real-time sehingga dokter dapat menentukan ukuran serta posisi implan yang paling sesuai dengan anatomi alami masing-masing pasien.
Selain meningkatkan akurasi pemasangan implan, teknologi ini juga membantu meminimalkan pelepasan ligamen selama operasi. Dengan demikian, pasien diharapkan dapat menjalani proses rehabilitasi lebih cepat dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan.
Saat ini, teknologi robotik ortopedi tersebut telah tersedia di sejumlah rumah sakit di Indonesia, termasuk Siloam Hospitals Bali, sebagai salah satu pilihan penanganan modern bagi pasien yang mengalami gangguan sendi lutut akibat osteoartritis.
Jangan Abaikan Nyeri Lutut
Nyeri lutut yang berlangsung terus-menerus bukanlah kondisi yang sebaiknya dianggap sepele. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mendeteksi osteoartritis sebelum kerusakan sendi semakin parah.
Dengan penanganan yang tepat, mulai dari perubahan gaya hidup hingga teknologi operasi modern bila diperlukan, penderita osteoartritis tetap memiliki peluang untuk mempertahankan kualitas hidup dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















