
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology pada 2015 menemukan bahwa lingkungan dengan tingkat kebisingan seperti di kabin pesawat dapat mengubah persepsi seseorang terhadap makanan dan minuman.
Dalam penelitian tersebut, para peserta diminta mencicipi berbagai jenis minuman sambil berada di ruangan yang mensimulasikan suara mesin pesawat.
Hasilnya menunjukkan bahwa rasa manis menjadi kurang terasa, sedangkan sensasi umami atau gurih justru meningkat.
Para peneliti menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan saraf chorda tympani, yaitu saraf yang menghubungkan lidah dengan otak melalui area telinga. Paparan suara keras diduga dapat memengaruhi kerja saraf tersebut sehingga persepsi terhadap rasa ikut berubah.
Bukan Karena Makanan Berkualitas Buruk
Selain faktor fisiologis, makanan pesawat memang biasanya dipersiapkan beberapa waktu sebelum penerbangan, kemudian dipanaskan kembali sebelum disajikan kepada penumpang. Proses ini dapat sedikit memengaruhi tekstur maupun kesegaran makanan.
Namun, para ahli menegaskan bahwa penyebab utama makanan terasa kurang nikmat justru berasal dari perubahan fungsi indra selama penerbangan, bukan semata-mata karena kemampuan koki atau kualitas menu yang disajikan.
Karena itu, tidak heran jika makanan yang sama bisa terasa lebih lezat ketika dinikmati di darat dibandingkan saat berada di dalam pesawat.
Dengan memahami bagaimana kondisi kabin memengaruhi indra pengecap dan penciuman, penumpang tidak perlu heran apabila cita rasa makanan berubah selama penerbangan. Fenomena ini merupakan respons alami tubuh terhadap lingkungan di ketinggian dan dialami oleh hampir semua orang.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















