
Saat ini wahana tersebut meneliti Sabuk Kuiper, kawasan yang dipenuhi objek-objek es yang mengelilingi Matahari di luar orbit Neptunus.
Selain itu, New Horizons juga mempelajari heliosfer, yaitu wilayah yang dipengaruhi angin Matahari (solar wind), untuk membantu ilmuwan memahami bagaimana batas antara Tata Surya dan ruang antarbintang terbentuk.
Kecepatan jelajah New Horizons mencapai sekitar 483 juta kilometer setiap tahun, membuatnya terus bergerak semakin jauh dari Bumi.
Bersiap Meneliti Hidrogen di Heliosfer Luar
Dalam beberapa pekan mendatang, wahana ini dijadwalkan memulai pengamatan terhadap hidrogen di bagian luar heliosfer.
Penelitian tersebut diharapkan mampu memberikan informasi baru mengenai termination shock, yaitu wilayah perbatasan tempat angin Matahari mulai melemah ketika bertemu dengan medium antarbintang.
Data yang diperoleh New Horizons dinilai sangat berharga karena pengamatan seperti ini belum pernah dilakukan dengan instrumen sepeka milik wahana tersebut.
Melanjutkan Warisan Misi Voyager
Sebelum New Horizons, hanya dua wahana yang pernah melintasi wilayah perbatasan Tata Surya, yakni Voyager 1 dan Voyager 2 milik NASA.
Namun, New Horizons membawa peralatan ilmiah yang lebih modern sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang jauh lebih rinci dibandingkan pendahulunya.
Para ilmuwan berharap data terbaru ini dapat membuka pemahaman baru mengenai kondisi ruang antarbintang serta interaksi antara pengaruh Matahari dengan lingkungan kosmik di sekitarnya.
Misi yang Terus Mengungkap Misteri Antariksa
Keberhasilan New Horizons kembali aktif menandai babak baru dalam eksplorasi wilayah terluar Tata Surya.
Informasi yang dikirimkan wahana tersebut diyakini akan menjadi sumber data penting bagi para peneliti untuk memahami struktur heliosfer, karakteristik Sabuk Kuiper, hingga kondisi ruang antarbintang yang selama ini masih menyimpan banyak misteri.
Seiring perjalanannya yang terus menjauh dari Matahari, New Horizons diharapkan mampu menghadirkan berbagai temuan baru yang memperkaya pengetahuan manusia tentang alam semesta.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














