

Sementara itu, Ustadz Samsam Nurhidayat dalam tausiyahnya mengajak jamaah menjadikan Muharram sebagai titik awal memperbaiki diri. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa amal saleh tidak hanya diwujudkan melalui ibadah mahdhah seperti shalat dan dzikir, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama, menjaga persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pesan tersebut seolah menemukan bentuk nyatanya ketika acara dilanjutkan dengan penyerahan santunan kepada anak yatim dan dhuafa. Senyum bahagia para penerima, tatapan haru para orang tua, serta wajah-wajah tulus para donatur menjadi potret indah yang menggambarkan makna berbagi sesungguhnya. Di momen itulah nilai-nilai Islam hadir bukan hanya dalam untaian nasihat, tetapi juga dalam tindakan nyata.
Bagi Masjid Al-Madinah, kegiatan santunan bukan sekadar agenda tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar untuk membangun budaya kepedulian yang terus tumbuh di tengah masyarakat. Ketika masjid mampu menjadi pusat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan sosial, maka keberadaannya akan semakin dirasakan manfaatnya oleh umat.

Kesuksesan penyelenggaraan kegiatan ini merupakan buah dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Majelis Ta’lim Al-Madinah, masyarakat Perumahan Mutiara Bogor Raya, hingga GISMAT MBR GP (Gerakan Infaq dan Shodaqoh Masyarakat Mutiara Bogor Raya dan Graha Pajajaran). Semangat gotong royong yang terbangun menjadi bukti bahwa ketika masyarakat bersatu, banyak kebaikan dapat diwujudkan bersama.
Tabligh Akbar Muharram 1448 Hijriah akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan pergantian tahun Islam. Ia menjadi pengingat bahwa setiap amal, sekecil apa pun, akan bermakna ketika dilakukan dengan keikhlasan. Dari masjid, tumbuh semangat berbagi. Dari kebersamaan, lahir kepedulian. Dan dari kepedulian itulah keberkahan mengalir kepada seluruh masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, Masjid Al-Madinah kembali menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga tempat menumbuhkan harapan, menguatkan persaudaraan, dan menyalakan cahaya kebaikan yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.
Muharram boleh berganti, tetapi semangat mengukir amal saleh dan menebar keberkahan hendaknya terus hidup—dari masjid, untuk umat, dan demi kemaslahatan bersama.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















