BOGORTODAY.COM – Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali menjadi perhatian setelah harga Brent menembus level psikologis US$100 per barel. Kenaikan yang terjadi pada Kamis (23/7/2026) itu menjadi yang tertinggi dalam sekitar dua bulan terakhir dan dipicu memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak Brent sebagai acuan perdagangan global tercatat naik sekitar 7 persen hingga ditutup di level US$100,69 per barel. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan lebih dari 6 persen menjadi US$92,19 per barel.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi dunia. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di Timur Tengah dinilai dapat menghambat distribusi minyak melalui jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan energi.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai harga minyak masih berpotensi terus meningkat apabila ketegangan geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Menurutnya, pasar minyak saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik. Setiap eskalasi baru langsung direspons pelaku pasar dengan kenaikan harga karena muncul kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Ia memperkirakan harga minyak dapat mencapai kisaran US$110 per barel dalam waktu dekat. Bahkan jika konflik semakin meluas dan mengganggu distribusi minyak dunia, harga berpotensi menyentuh level US$120 per barel.
Indonesia Mulai Masuk Zona Waspada
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan Indonesia memang masih memiliki daya tahan menghadapi gejolak harga minyak dalam jangka pendek. Namun kondisi saat ini sudah tidak bisa dianggap aman sepenuhnya.
Pasalnya, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 dipatok hanya US$70 per barel, sedangkan realisasi rata-rata harga minyak hingga Mei sudah mendekati US$92 per barel.
Tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di atas asumsi pemerintah, sementara produksi minyak nasional belum mampu memenuhi target yang telah ditetapkan.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi berupa cadangan devisa yang cukup besar serta surplus neraca perdagangan sehingga dampak jangka pendek masih dapat diredam.
Namun, apabila harga minyak bertahan di atas US$100 per barel selama beberapa bulan, pemerintah diperkirakan harus mengambil langkah-langkah sulit, seperti menambah subsidi energi, mengurangi belanja negara di sektor lain, memperlebar defisit anggaran, atau melakukan penyesuaian harga bahan bakar.
Subsidi Energi Berpotensi Membengkak
Lonjakan harga minyak dipastikan akan memberikan tekanan besar terhadap anggaran subsidi energi pemerintah.
Hingga semester pertama 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi telah mencapai lebih dari separuh pagu anggaran tahunan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia, pelemahan rupiah, serta meningkatnya konsumsi BBM dan LPG bersubsidi.
Menurut para ekonom, meskipun penerimaan negara dari sektor migas ikut meningkat, tambahan pemasukan tersebut belum mampu mengimbangi besarnya biaya impor minyak, subsidi, kompensasi, maupun distribusi energi.
Sebagai negara yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar, Indonesia menjadi salah satu pihak yang paling rentan terhadap gejolak harga energi global.
Ketergantungan Impor Masih Tinggi
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















