BOGOR-TODAY.COM, MEDAN – Setiap malam, para staf panti asuhan Mutiara Mulia melakukan ritual dengan menyiapkan tripod serta ponsel yang terpasang dan memasangkannya ke speaker untuk memutar musik.
Kemudian mereka mulai melakukan siaran langsung di TikTok untuk meminta donasi panti asuhan dan berterima kasih kepada pemirsa yang mengirimkan hadiah digital yang dapat ditukar dengan uang tunai melalui aplikasi.
“Kami terinspirasi untuk memulai siaran langsung karena kami melihat panti asuhan lain di Indonesia melakukan hal yang sama,” ujar Mika Ndruru pendiri panti asuhan mengutip Al Jazeera, Rabu 19 Juli 2023.
Pada malam yang baik, siaran langsung panti asuhan dapat menarik hingga 2.000 pemirsa dan menghasilkan sekitar $165 melalui hadiah dan donasi langsung ke rekening bank panti asuhan, yang ditampilkan dengan jelas pada spanduk di latar belakang.
Siaran langsung ini sangat menguntungkan sehingga panti asuhan mampu membiayai empat dari 30 siswanya yang berusia antara dua hingga 17 tahun untuk bersekolah di sekolah swasta.
Indonesia merupakan pasar terbesar kedua TikTok setelah Amerika Serikat, dengan jumlah pengguna sekitar 106 juta pada tahun 2022.
Sejak diluncurkan di negara Asia Tenggara ini pada tahun 2017, aplikasi berbagi video ini telah muncul sebagai platform untuk mengumpulkan donasi, terutama untuk kelompok-kelompok rentan seperti anak yatim piatu, penyandang disabilitas, dan lansia.
Pada bulan Februari, tren ini menjadi viral setelah serangkaian video yang menunjukkan seorang wanita tua duduk berjam-jam di genangan air dan lumpur sambil memohon kepada para pemirsa untuk mengirimkan sumbangan.
Kemarahan publik yang dihasilkan membuat pembuat video tersebut sempat diinterogasi oleh polisi dan menimbulkan pertanyaan tentang etika mengemis secara online.
Namun di Mutiara Mulia di Medan, Ndruru, 26 tahun, bersikeras bahwa TikTok telah menjadi penyelamat ketika sumber dana lain mengering. Sebagai panti asuhan swasta, Mutiara Mulia tidak menerima subsidi dari pemerintah dan sepenuhnya bergantung pada donasi dari masyarakat.
“Beberapa bulan, kami tidak mendapatkan donasi selain dari TikTok,” kata Ndruru.
Sementara itu, Niswan Harefa, seorang pengacara di Medan yang berasal dari pulau tersebut, mengatakan bahwa panti asuhan dan penggunaan TikTok merupakan gejala dari masalah sosial dan ketidakmampuan pemerintah untuk menanganinya.
“Perekonomian Nias sangat rendah, begitu juga dengan gaji di pulau ini. Banyak orang tua yang tidak mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka atau memberi mereka makanan yang cukup,” kata Harefa.
Ia berpendapat bahwa ini bukan berarti tidak ada bantuan dari pemerintah. Namun, para orang tua seringkali tidak tahu bagaimana cara mengakses layanan pemerintah. Akibatnya, mereka mengirim anak-anak mereka untuk tinggal di panti. Sebab, mereka tahu bahwa akan diberi makan dan disekolahkan.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















