REFLEKSI SUMPAH PEMUDA, PRESIDEN MAHASISWA UNIVERSITAS BINANIAGA : KESENJANGAN AKSES PENDIDIKAN MASIH MENJADI PERSOALAN BESAR

Muhammad Azrin (Presiden Mahasiswa Universitas Binaniaga)

Oleh : Muhammad Azrin (Presiden Mahasiswa Universitas Binaniaga)

SUMPAH Pemuda adalah momentum dari refleksi pemuda akan adanya Sebuah proses kesadaran bahwa dengan persatuan akan bisa mengubah keadaan sebuah bangsa yang sudah lama dijajah dan ditindas. Pada saat itu pemuda yang berasal dari berbagai organisasi dan latar belakang yang berbeda terpanggil untuk melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi untuk bersatu melawan penjajah diantaranya Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Sumatra, Jong Islamiten Bond, Jong Celebes, Jong Borneo dll.

Tak bisa dipungkiri pemuda memang memiliki peran penting dalam sejarah bangsa kita. Pemuda tak bisa dipisahkan dari kemajuan suatu bangsa. Sebab pemuda merupakan agent of change, moral force, dan control social bagi bangsa dan Negara karena hampir setiap momentum bersejarah diciptakan oleh semangat pemuda yang gandrung akan perubahan.

BACA JUGA :  Benarkah Harimau Takut pada Kucing? Ini Fakta Ilmiahnya

Peringatan 96 tahun Sumpah Pemuda tahun ini, pemerintah mengusung tema yang cukup ambisius “Maju Bersama Indonesia Raya”. Tentu saja tema ini mengajak kita untuk membayangkan masa depan Indonesia yang lebih cerah, maju, dan sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Tetapi, dibalik tema yang penuh dengan optimisme tersebut, nyatanya menyimpan banyak ironi yang perlu kita renungkan bersama. Tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda dan lulusan perguruan tinggi, tentu perlu menjadi catatan penting bagi pemerintah saat ini.

Para pemuda Indonesia saat ini dihadapkan pada biaya kuliah yang begitu mahal. Sehingga akses pendidikan untuk pemuda menjadi semakin terbatas. Lantas, apakah pemuda sudah diberikan kesempatan yang layak untuk maju bersama?

BACA JUGA :  MMAJ Jakarta 2026 Hadirkan Festival Anime dan Budaya Jepang Berskala Internasional di Gandaria City

Realitas di lapangan menunjukan bahwa angka pengangguran di kalangan pemuda begitu mengkhawatirkan. Bahkan jumlah pengangguran lulusan perguran tinggi pun semakin meningkat.

Disisi lain, mahalnya biaya kuliah mengakibatkan para generasi muda khususnya di kalangan ekonomi menengah kebawah menjadi kesulitan untuk mengakses pendidikan tinggi. Sementara,bantuan pendidikan dan beasiswa seringkali tidak mencukupi semua kebutuhan pendidikan. Bahkan seringkali gelar sarjana yang sudah didapatkan, nyatanya tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Kondisi ini tentu bertentangan dengan konsep Indonesia yang “maju bersama” dan justru menunjukkan bahwa ketimpangan akses dan peluang masih menghantui bangsa ini.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================