BOGORTODAY.COM – Perang Badar adalah salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam.
Terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah (624 M), pertempuran ini bukan hanya konfrontasi militer biasa, tetapi juga pertempuran antara kebenaran dan kebatilan yang menjadi titik balik kekuatan umat Islam di jazirah Arab.
Latar Belakang dan Sebab Terjadinya Perang
Dalam As-Sirah an-Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi disebutkan bahwa Perang Badar dipicu oleh perseteruan panjang antara umat Islam dan kaum Quraisy yang musyrik.
Kaum Quraisy terus-menerus berusaha memerangi dan menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW, menyulitkan kehidupan kaum muslimin di Makkah, hingga memaksa mereka hijrah ke Madinah.
Puncaknya terjadi saat Nabi Muhammad SAW mendapatkan informasi bahwa kafilah dagang Quraisy, yang dipimpin oleh Abu Sufyan, tengah dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah, membawa harta kekayaan besar milik penduduk Makkah—lebih dari 1.000 unta dan barang dagangan senilai 5.000 dinar emas. Ini menjadi peluang strategis bagi kaum muslimin untuk menyerang sisi ekonomi dan moral Quraisy.
Nabi SAW pun berkata kepada para sahabat:
“Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Hadanglah kafilah itu, semoga Allah SWT memberikan barang rampasan itu kepada kalian.”
Pasukan Tak Seimbang, Strategi Mengungguli Kuantitas
Pasukan muslim yang berangkat dari Madinah hanya berjumlah sekitar 313 orang, sedangkan pasukan Quraisy mencapai 1.000 orang lengkap dengan perlengkapan perang.
Namun, dengan strategi cerdik dari Rasulullah SAW, pasukan Islam lebih dulu tiba dan menduduki mata air Badar — sumber vital di tengah gurun. Hal ini menjadi keunggulan taktis dalam medan yang gersang dan panas.
Awal Peperangan dan Duel Pertama
Ketegangan memuncak saat Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, prajurit Quraisy yang dikenal kasar dan arogan, maju menyerang untuk merebut mata air.
Namun, langkahnya dihentikan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW. Dalam duel singkat namun sengit, Hamzah berhasil menebas betis Al-Aswad dan mengakhiri nyawanya.
Setelah itu, duel antara para pemimpin dan kesatria Quraisy seperti Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah pun terjadi.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















