
Oleh:
Dr. Yudi Wahyudin
(Wakil Rektor IV Universitas Djuanda & Kepala Pusat Kolaborasi Riset dan Advokasi Kelauatan, Lingkungan Perairan dan Perikanan)
Bagaimana merancang pembangunan daerah yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, dan bukan sekadar menumpuk rencana di atas kertas? Jawabannya cukup sederhana, yaitu berbasis bukti, dan bukti terbaik tentu saja hanya datang dari hasil riset.
Hal inilah yang sedang dipersiapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) tahun 2025-2029.
Balitbangda Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan sebuah forum khusus yang dirancang untuk datang menjaring perspektif baru dari berbagai stakeholder daerah dan pusat untuk memberikan penguatan dan pemantapan pilar referensi dalam penyusunan renstranya.
Forum yang diselenggarakan pada hari Kamis, 12 Juni 2025 ini menghadirkan para birokrat terkait, akademisi perguruan tinggi di wilayah administrasi Jawa Barat, dan praktisi untuk dapat berdiskusi dan memberikan tambahan kekayaan pengetahuan yang diharapkan dapat menjadi ujung tombak kedalaman substansi renstra yang disusun.
Dalam dunia birokrasi, hasil penelitian kerap dianggap sebagai dokumen pelengkap yang jarang disentuh kembali.
Namun, situasi ini mulai berubah seiring perubahan paradigma pembangunan terkini. Jawa Barat kini berambisi menjadikan riset sebagai fondasi utama dalam perencanaan pembangunan daerah.
Artikel ini mencoba memberikan ruang integrasi penggunaan pendekatan penyusunan yang sistematis dan terukur agar dapat menghasilkan renstra terbaik yang juga inovatif, terstruktur, dan terukur, yaitu salah satunya melalui kombinasi pendekatan analisis SWOT dan penggunaan anggaran berbasis kinerja.
Mengapa Harus Berbasis Riset?
Pembangunan tidak bisa lagi hanya mengandalkan insting atau pengalaman birokrasi. Kompleksitas permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan menuntut solusi yang berbasis pada data dan bukti ilmiah.
Sayangnya, riset di level daerah seringkali tercerai-berai, tidak terdokumentasi dengan baik, atau bahkan tidak digunakan dalam penyusunan kebijakan, sehingga tekstualitas kebijakan yang diambil cenderung ”gagal” manfaat berkelanjutan dan tidak memenuhi ekspektasi kesejahteraan publik.
Balitbangda Jawa Barat mencoba untuk menjawab persoalan ini dengan menyusun strategi baru yang mengintegrasikan hasil riset ke dalam siklus perencanaan dan penganggaran pembangunan.
Strategi ini tidak hanya memetakan kekuatan dan kelemahan internal, tetapi juga memperhatikan peluang dari kebijakan nasional serta ancaman yang dapat mengganggu pelaksanaannya.
Indikator keberhasilan pembangunan pada akhirnya diharapkan dapat menjawab tantangan nyata di level ”grass root” karena merupakan hasil dari riset yang telah dijalankan sebelumnya.
Strategi Integrasi SWOT dan Anggaran Berbasis Kinerja
Pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dapat diterapkan dalam penyusunan Renstra Balitbangda dilakukan dengan cara yang berbeda yang lebih sistematis dan terukur.
Setiap faktor diberi bobot dan dinilai berdasarkan tingkat pengaruhnya terhadap keberhasilan strategi dan program. Hasilnya tentu akan dapat menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki kekuatan di bidang kapasitas SDM riset dan teknologi informasi, tetapi masih menghadapi tantangan koordinasi antar-instansi dan terbatasnya anggaran riset.
Di sisi lain, peluang besar terbuka lebar, dimana pemerintah pusat sedang mendorong sinergi riset nasional melalui Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) dan kebijakan inovasi daerah.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















