Benteng Van den Bosch: Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Ngawi yang Kini Jadi Destinasi Wisata

Benteng Van den Bosch
Benteng Van Den Bosch (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

BOGORTODAY.COM – Indonesia menyimpan banyak peninggalan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang bangsa menuju kemerdekaan.

Salah satunya adalah Benteng Van den Bosch, yang terletak di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Benteng Pendem, karena bangunannya berada lebih rendah dari tanah sekitar sehingga tampak “terpendam”.

Meski berusia lebih dari satu abad, benteng peninggalan Belanda ini masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Selain menjadi saksi bisu kekuasaan kolonial, Benteng Van den Bosch juga menyimpan kisah heroik rakyat Ngawi yang berani melawan penjajah. Kini, benteng ini ditetapkan sebagai cagar budaya sekaligus destinasi wisata sejarah yang ramai dikunjungi.

Sekilas Tentang Benteng Van den Bosch

BACA JUGA :  Dorong Transaksi Non-Tunai di Pasar Kebon Kembang, Perumda PPJ dan BSI Resmikan Sales Outlet Lapak

Benteng Van den Bosch berada di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, tepat di pertemuan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Lokasinya yang strategis membuatnya menjadi titik penting jalur perdagangan dan transportasi hasil bumi, terutama rempah-rempah.

Bangunan benteng berukuran 165 meter x 80 meter dengan arsitektur khas Eropa abad ke-19. Tidak seperti benteng lain, Benteng Van den Bosch sengaja dibangun lebih rendah dari permukaan tanah.

Desain ini menjadi strategi pertahanan agar benteng sulit diserang sekaligus mengurangi risiko banjir dengan adanya saluran drainase khusus.

Jejak Sejarah Benteng Van den Bosch

Benteng ini erat kaitannya dengan Perang Diponegoro (1825–1830). Saat itu, Ngawi menjadi basis penting perlawanan rakyat Jawa terhadap Belanda. Tokoh-tokoh lokal seperti Adipati Judodiningrat, Raden Tumenggung Surodirjo, dan Wirotani turut memimpin perjuangan bersama Pangeran Diponegoro.

BACA JUGA :  Momen HJB ke-544, Museum Pajajaran Mulai Dibuka Resmi untuk Umum

Namun, pada tahun 1825 Belanda berhasil menguasai Ngawi. Untuk memperkuat pertahanan dan mengendalikan jalur perdagangan di Bengawan Solo, Belanda membangun benteng yang memakan waktu sekitar 20 tahun dan rampung pada 1845.

Benteng ini dinamai sesuai nama Jenderal Johannes Van den Bosch, pemimpin pasukan Belanda kala itu. Di masa operasionalnya, benteng dihuni sekitar 250 tentara bersenjata api, 60 pasukan kavaleri, dan 6 meriam, menjadikannya simbol kekuatan militer Belanda di Jawa Timur.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================