Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan)
KASUS seorang kepala sekolah yang menampar siswanya karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah, hingga berujung pada pelaporan ke polisi, menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekedar pelanggaran aturan.
Peristiwa ini menyentuh nurani kita tentang makna mendidik, tentang bagaimana disiplin dan kasih seharusnya berjalan beriringan.
Disisi lain hal ini seolah mengingatkan kita bahwa pendidikan tanpa hati hanya akan melahirkan ketertiban semu, bukan kesadaran sejati.
Dalam banyak ruang kelas, disiplin sering diartikan sebagai hukuman. Kita masih mewarisi cara pandang lama bahwa ketegasan harus tampak keras, bahwa anak harus tunduk untuk belajar taat.
Disisi lain anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda yakni dunia dimana suara mereka dihargai, dimana dialog menjadi bahasa baru dalam belajar.
Ketika pendekatan kekerasan digunakan, bukan kedisiplinan yang lahir, melainkan jarak emosional yang kian lebar antara guru dan murid.
Dalam kacamata sosial, perubahan ini menandai pergeseran nilai dari otoritas ke kesetaraan. Sekolah tidak lagi hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi juga ruang perjumpaan nilai, ruang di mana anak belajar menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawab sosialnya.
Di sinilah letak pentingnya “teaching with heart” , mengajar dengan hati, bukan hanya dengan suara atau peraturan.
Mengajar dari Hati, Bukan dari Amarah
Pada hakekatnya mendidik bukanlah pekerjaan mekanis, tetapi sebuah proses sosial yang memerlukan empati, kesabaran, dan kemampuan memahami dinamika manusia.
Seorang guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian mengajar dari hati berarti menempatkan cinta dan keteladanan di atas rasa kuasa.
Dalam dunia sosial modern, hubungan guru dan murid sedang berubah. Anak-anak kini bukan subjek pasif yang bisa diarahkan tanpa dialog. Mereka tumbuh di tengah kebebasan berekspresi dan cepat merespons ketidakadilan.
Ketika guru menegur dengan empati, anak tidak merasa direndahkan, tetapi justru merasa dihargai. Ketika hukuman diganti dengan dialog, yang tumbuh bukan ketakutan, tetapi kesadaran.
Dalam hal ini sosiolog Emile Durkheim pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah sarana membangun solidaritas sosial yang menghubungkan individu dengan nilai-nilai bersama.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















