BOGORTODAY.COM – Bagi banyak orang, khususnya pelajar, mendengar kata matematika saja sudah cukup membuat panik. Rasa khawatir dan enggan belajar sering muncul bahkan sebelum materi diberikan.
Sebuah buku terbaru karya empat akademisi—Dr. Puguh Darmawan, Dr. Nonik Indrawatiningsih, Dr. Muhammad Irfan, dan Dr. Imam Rofiki—membahas secara komprehensif sumber dari rasa “parno matematika” tersebut.
Menurut buku ini, ada tiga pendekatan utama yang menjelaskan mengapa matematika kerap menjadi momok di sekolah.
- Problematika dari Sisi Bahan Ajar
Bahan ajar seperti buku teks, modul, atau lembar kerja siswa sejauh ini masih menjadi rujukan utama dalam pembelajaran matematika.
Namun, penyajian materi yang terlalu kaku dan formal justru menciptakan jarak antara kemampuan kognitif siswa dengan tuntutan kompetensi.
Buku ini menyoroti berbagai kesalahan konseptual dalam buku teks matematika, di antaranya:
- Definisi yang ambigu dan sulit dipahami
- Hierarki konsep yang kurang tepat
- Konsep baru yang tidak diawali dengan prasyarat memadai
- Representasi visual atau tabel yang menimbulkan salah tafsir
- Penggunaan “metode cepat” yang menekankan hasil, bukan pemahaman
Kritik juga ditujukan pada buku Kurikulum 2013, yang meski disebut sebagai dokumen hidup, ternyata masih menyimpan kekeliruan logis dan pedagogis.
Alhasil, pelajaran matematika semakin jauh dari konteks kehidupan nyata dan semakin sulit didekati siswa.
- Hambatan Kognitif, Emosional, dan Psikologis Siswa
Setiap anak memiliki kemampuan kognitif yang berbeda, dan hal ini sangat berpengaruh pada cara mereka memahami matematika. Buku ini menguraikan beberapa permasalahan umum:
- Slow Learner
Kelompok ini membutuhkan pengulangan materi, bimbingan individual, dan dukungan emosional. Tanpa pendekatan personal, mereka rentan kehilangan percaya diri dan tertinggal dalam pemahaman.
- Diskalkulia
Gangguan ini membuat siswa kesulitan memahami angka, arah, waktu, dan pola numerik. Akibatnya, soal sederhana pun bisa terasa membingungkan.
Diskalkulia tidak terkait dengan kemalasan, melainkan keterbatasan otak dalam memproses simbol matematika.
- Kecemasan Matematika
Ini adalah masalah paling banyak dialami siswa. Wigfield dan Meece (1990) menyebut dua komponen utama kecemasan matematis:
- Math anxious – rasa takut, tegang, atau gugup saat menghadapi matematika
- Pengalaman kegagalan berulang – membuat siswa semakin tidak percaya diri
Kecemasan ini bisa bersumber dari pengalaman buruk, metode pengajaran yang terlalu fokus pada hasil, atau lemahnya memori kerja siswa.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















