BMKG: Sepekan ke Depan, Cuaca Indonesia Dipengaruhi Kombinasi Faktor Global dan Regional

BMKG
Ilustrasi Hujan. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan di Indonesia akan meningkat dalam sepekan ke depan.

Peningkatan ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer berskala global, regional, hingga lokal yang saat ini terpantau semakin aktif.

Dalam rilis resminya, BMKG menjelaskan bahwa sejumlah fenomena atmosfer tengah terjadi bersamaan dan berperan signifikan dalam pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Sejumlah Fenomena Atmosfer Pengaruhi Cuaca Indonesia

Dalam sepekan ke depan, BMKG mencatat beberapa faktor utama yang memicu pertumbuhan awan hujan di Tanah Air, di antaranya:

  • Gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin
  • Siklon Tropis FUNG-WONG
    Terpantau di Samudra Pasifik bergerak ke arah barat–barat daya. Meskipun berada di luar wilayah Indonesia, siklon ini memberikan dampak tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta gelombang tinggi di wilayah timur dan utara Indonesia.
  • Sirkulasi siklonik
    Teramati di barat daya Bengkulu dan barat daya Banten. Fenomena ini meningkatkan potensi awan hujan di sepanjang pesisir barat Sumatra bagian selatan hingga Jawa bagian barat.
  • Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO)
    Saat ini berada pada fase 5 (Maritime Continent) dan diprediksi aktif di Sumatra dan Jawa dalam beberapa hari ke depan.
BACA JUGA :  Cara Menghadapi Bos Toksik Tanpa Harus Resign di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Kombinasi fenomena-fenomena ini membuat atmosfer Indonesia tetap labil sehingga mendukung pembentukan awan konvektif penghasil hujan.

Dinamika Atmosfer Semakin Aktif

BMKG menilai beberapa indikator global menunjukkan kondisi yang mendukung pembentukan hujan, seperti:

  1. Dipole Mode Index (DMI) bernilai negatif (-1.94)

Nilai negatif menandakan pemanasan perairan Samudra Hindia bagian timur dekat Indonesia, sehingga meningkatkan aliran uap air ke wilayah Indonesia bagian barat. Kondisi ini berpotensi meningkatkan hujan di wilayah tersebut.

  1. Fenomena La Niña Lemah

La Niña mengidentifikasikan adanya peningkatan pasokan uap air dari Samudra Pasifik menuju wilayah Indonesia, ikut memperkuat potensi hujan.

  1. Aktivitas MJO

MJO fase 5 membuat wilayah Sumatra dan Jawa mengalami peningkatan pertumbuhan awan hujan.

  1. Gelombang Rossby Ekuator

Diperkirakan aktif di:

  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Bengkulu
  • Jambi
  • Sumatera Selatan
  • Lampung
  • Jawa Barat

Fenomena ini meningkatkan pembentukan awan konvektif di wilayah tersebut.

  1. Gelombang Kelvin
BACA JUGA :  Kemensos Usulkan Lansia dan Disabilitas Masuk Program MBG

Saat ini bergerak ke timur dan aktif di banyak wilayah, termasuk Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku Utara. Kondisi ini menyebabkan peningkatan curah hujan secara luas.

  1. Siklon Tropis FUNG-WONG & Sirkulasi Siklonik

Selain berdampak pada timur Indonesia, siklon ini membentuk konvergensi angin dari timur Filipina hingga utara Papua, yang semakin mendukung pertumbuhan awan hujan.
Sirkulasi siklonik juga teramati di:

  • Barat daya Sumatra Barat – Lampung
  • Selat Sunda
  • Selatan Banten
  • Laut Arafuru
  • Laut Aru
  • Pulau Maluku

Semua fenomena tersebut turut mendorong terjadinya cuaca ekstrem di beberapa wilayah.

Potensi Cuaca Ekstrem: Waspadai Banjir, Longsor, dan Angin Kencang

Melihat kondisi atmosfer yang aktif, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti:

  • Hujan intensitas sedang hingga sangat lebat
  • Kilat/petir
  • Angin kencang
  • Gelombang laut tinggi

Cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, genangan, dan longsor yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================