Umair bin Sa’ad, Pemimpin Berintegritas Tinggi yang Dijuluki Nasiju Wahdih

Umair bin Sa’ad
Umair bin Sa’ad, Pemimpin Berintegritas Tinggi yang Dijuluki Nasiju Wahdih. (Foto: Ist)

BOGORTODAY.COM Umair bin Sa’ad adalah salah satu sahabat mulia yang kisah hidupnya menjadi teladan keimanan dan kejujuran dalam sejarah Islam.

Ia beriman kepada risalah Rasulullah SAW sejak usia belia—di masa ketika jiwanya masih bening dari keraguan dan penyakit hati.

Keimanan yang menghujam kuat inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi kepribadiannya yang luar biasa.

Integritas Umair begitu menonjol hingga membuat Khalifah Umar bin Khattab menjulukinya nasiju wahdih, yang berarti “sosok yang tak tertandingi.” Gelar tersebut bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan atas keteguhan iman dan kejujuran yang sulit ditemukan pada manusia lain di masanya.

Diangkat Menjadi Pemimpin Kota Himsh

Dalam kitab Sirah 65 Sahabat Rasulullah karya Abdurrahman Ra’fat, disebutkan bahwa penduduk kota Himsh adalah masyarakat yang dikenal sulit dipimpin. Mereka sering mengeluhkan setiap pemimpin yang diutus kepada mereka—tak ada satu pun wali yang luput dari kritik.

BACA JUGA :  Bolehkah Minum Susu Mentah? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Khalifah Umar mengetahui sifat penduduk Himsh yang demikian. Karena itu, beliau ingin mengutus sosok yang tidak hanya tegas, tetapi juga memiliki integritas tinggi—seseorang yang tak mudah digoyahkan oleh tekanan atau godaan kekuasaan. Setelah menimbang berbagai nama, Umar tidak menemukan sosok yang lebih layak dibanding Umair bin Sa’ad.

Saat itu, Umair sedang memimpin pasukan di wilayah Syam. Ia dikenal gagah berani, menaklukkan kota-kota, dan menegakkan syiar Islam di mana pun ia berada. Meski berada di medan jihad, Umair langsung memenuhi panggilan Amirul Mukminin. Ia meninggalkan pasukan dan menuju Himsh untuk menjalankan amanah sebagai pemimpin kota tersebut.

Khutbah yang Menggetarkan Hati Penduduk Himsh

BACA JUGA :  IATA Soroti Kebiasaan Penumpang Membawa Barang Saat Evakuasi Darurat Pesawat

Sesampainya di Himsh, Umair tidak langsung mengatur administrasi pemerintahan. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan penduduk untuk melaksanakan salat berjamaah. Seusai salat, ia berdiri di hadapan mereka dan menyampaikan khutbah yang sarat hikmah.

Ia memuji Allah SWT, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, lalu memberikan nasihat yang menggetarkan hati:

“Islam adalah benteng yang kokoh dan gerbang yang kuat.”

Benteng itu, jelasnya, adalah keadilan, sedangkan gerbangnya adalah kebenaran. Jika keduanya hancur—jika keadilan tidak ditegakkan dan kebenaran diabaikan—maka Islam akan kehilangan perlindungan dari dalam diri umatnya sendiri.

Umair menegaskan bahwa kekuasaan tidak akan tegak karena pedang atau kekerasan, tetapi hanya dengan keadilan yang hakiki.

Satu Tahun Memimpin Tanpa Keluhan

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================