
BOGORTODAY.COM – Era Ruben Amorim di Old Trafford resmi berakhir dengan cara yang pahit. Pelatih asal Portugal itu hanya bertahan selama 14 bulan sejak didatangkan dari Sporting Lisbon dengan status penyelamat. Harapan besar yang disematkan kepadanya justru berujung pada kekecewaan mendalam bagi Manchester United.
Datang dengan reputasi juara dan filosofi permainan yang kuat, Amorim gagal menjawab ekspektasi manajemen baru di bawah Sir Jim Ratcliffe. Alih-alih membawa trofi dan stabilitas, ia meninggalkan klub dengan rekor buruk, konflik internal, serta suasana ruang ganti yang retak.
Perjalanan Amorim mulai goyah ketika ia secara terbuka menyebut Manchester United sebagai tim terburuk dalam sejarah klub usai kekalahan dari Brighton. Pernyataan tersebut dinilai menjatuhkan mental pemain dan memperlebar jarak antara dirinya dengan skuad.
Kesempatan menutup musim dengan trofi juga sirna di final Liga Europa. Menghadapi Tottenham yang tengah krisis, United tampil tanpa arah dan gagal memanfaatkan peluang emas. Kekalahan tersebut membuat MU finis di papan bawah liga tanpa satu pun gelar.
Masalah kian bertambah ketika United tersingkir secara memalukan dari EFL Cup oleh Grimsby Town, klub divisi empat. Kekalahan itu menjadi simbol kegagalan taktik, diperparah dengan sorotan kamera yang menangkap Amorim panik mengutak-atik papan strategi di tengah hujan deras.
Di ruang ganti, Amorim menciptakan gesekan dengan membekukan sejumlah pemain bintang seperti Marcus Rashford dan Jadon Sancho, sementara Alejandro Garnacho akhirnya dilepas usai konflik terbuka. Ketegasan yang diharapkan justru berkembang menjadi sumber ketegangan internal.
Tekanan dari luar lapangan juga tak kalah besar. Amorim kerap bersitegang dengan para legenda klub seperti Gary Neville dan Paul Scholes. Alih-alih meredam kritik, ia justru terpancing perang pernyataan yang semakin menyita fokusnya.
Keras kepalanya mempertahankan formasi tiga bek menjadi sorotan utama. Sistem tersebut dianggap tidak sesuai dengan karakter pemain dan kerap membuat United tampil kaku. Bahkan ketika sempat meraih hasil positif dengan skema berbeda, Amorim tetap kembali pada pendekatan lamanya.
Puncak krisis terjadi usai laga melawan Leeds United. Dalam konferensi pers, Amorim secara terbuka mengkritik manajemen dan menuntut kewenangan penuh sebagai manajer. Pernyataan tersebut dianggap melampaui batas dan merusak hubungan internal klub.
Tak lama berselang, manajemen Manchester United mengambil keputusan tegas. Hanya sekitar 18 jam setelah ledakan emosinya di depan publik, surat pemecatan resmi disampaikan kepada Ruben Amorim, menandai berakhirnya salah satu era terpendek dan paling kontroversial di Old Trafford.
(MG6)
Editor : Alif Luqman
Sumber : bola.net
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















