Modern Tak Harus Lupakan Kodrat

12079418_10153604744743418_1757613638219256608_nBOGOR, Today – Me­mang sudah kodrat wanita untuk men­jadi seorang ibu dan istri bagi keluargan­ya, namun ternyata zaman menuntut lebih pada semua wanita. Wanita sekarang dituntut harus lebih mod­ern dalam berso­sialisasi. Hanya saja banyak wanita yang salah mengartikan “wanita modern” itu sendiri.

Bagi Diah, wani­ta modern bukan­lah wanita yang sering menghabiskan wak­tunya berbelanja di mall dan berkumpul dengan teman-te­mannya di salahsatu cafe atau restoran. Meski begitu, Diah juga tidak mau munafik jika dirinya pun sering berkum­pul bersama teman-temannya sambil hangout.

Namun, baginya wanita modern adalah wanita yang dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan mau menuntut ilmu setinggi-tinggin­ya. Karena meskipun wanita itu hanyalah seorang ibu rumah tangga, lantas bukan berarti ti­dak bersosialisasi dan berbuat sesuatu bagi dirinya, keluarga juga lingkungan.

“Banyak wanita yang sekolah tingg-tinggi lalu menjadi ibu rumah tangga, dan waktu­nya ia habiskan untuk mengurus keluarga sedangkan ilmunya sendiri di sekolah tidak diterapkan. Jadi BWC ini adalah wadah yang mampu menuangkan bakat-bakat wanita seperti itu,” tutur puteri pertama dari man­tan Guru Besar ITB, Bandung, Prof. DR. Ing. Faraz Umar (Alm) dan Yetty Faraz ini.

BACA JUGA :  MENJAGA AKIDAH ISLAM DI TENGAH BERAGAM ARUS PEMIKIRAN KEISLAMAN

Sama halnya yang ia lakukan, Selain menjadi ibu dari ke-tiga anaknya, antara lain Reiyan Khairina Ghaisani (22), Ziljian Qiati (20) dan Jinan Laetitia (13), Diah juga adalah seorang business woman, keahlian­nya sebagai arsitektur bukan menjadi tolak ukur dalam sebuah berkarya. Diah mampu mendesign kebaya traditional, membuat te­nun sutera dan bahkan ia yang mendesign sendiri.

Beberapa penghargaan sekelas nasional pun mampu ia gondol dari hasil kreatifitas­nya itu. “Saya pernah mendapat beberapa penghargaan, salah satunya lomba Design Batik Nusantara untuk kategori kain untuk busana. Selain itu, saya juga berusaha eksis di berbagai organisasi kewanitaan lain, tidak hanya BWC saja, diantaranya Saya Perem­puan Anti Korupsi (SPAK) dan Perempuan Bogor Anti Korupsi (BPAK),” urai istri dari Ir. Prahara Syah Rendra ini di sela-sela waktunya.

BACA JUGA :  OSN-K 2026 Segera Digelar, Peserta Wajib Pahami Tata Tertib dan Sanksi yang Berlaku

Kendati demikian, Diah sangat memaha­mi kodratnya sebagai seorang ibu dan istri di rumahnya. Jadi ia sendiri sangat menomor­satukan keluarga terlebih dahulu dibanding­kan kegiatan lainnya. Beruntung Diah me­miliki keluarga yang sangat memahami dan mendukung segala aktifitasnya.

“Suami dan anak-anak saya mendu­kung banget segala kegiatan saya ini. Malah yang lucu, logo BWC itu anak saya dan saya sendiri yang buat. Tapi tetap saja, buat saya keluarga harus didahulukan,” pungkasnya.

(Latifa Fitria)

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================