Studi Terbaru: Rambut Berpotensi Mendeteksi Parkinson

Rambut
Ilustrasi Rambut. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Sebuah studi terbaru menemukan bahwa rambut berpotensi menjadi alat untuk mendeteksi penyakit Parkinson. Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan di China.

Melansir Science Alert, para peneliti menganalisis sampel rambut dari 60 pasien pengidap Parkinson. Rambut tersebut kemudian dibandingkan dengan sampel rambut dari kelompok sehat dengan rentang usia yang sama. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara kedua kelompok.

“Penemuan ini berpotensi bisa dijadikan diagnostik yang tinggi untuk penyakit Parkinson,” ujar Ming Li, pemimpin studi sekaligus ahli biologi dari Hebei University.

BACA JUGA :  Cegah Longsor di Trase Baru Batutulis, Wali Kota Bogor Siapkan Skema Penanaman Pohon Penahan Tebing

Rambut Simpan Jejak Logam dalam Tubuh

Selama ini, diagnosis Parkinson masih menjadi tantangan dalam dunia medis. Beberapa penelitian sebelumnya mencoba mendeteksi penyakit ini melalui tes darah. Namun, penggunaan rambut sebagai indikator merupakan pendekatan baru yang dinilai unik.

Rambut diketahui mampu mengakumulasi logam berat dari makanan maupun lingkungan sekitar. Dengan kata lain, rambut dapat menyimpan “rekam jejak” kondisi kesehatan seseorang dalam jangka waktu tertentu.

Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa kadar zat besi pada rambut pasien Parkinson cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok sehat.

BACA JUGA :  Gagal Lolos SNBT 2026? Masih Ada Peluang Masuk PTN Lewat Jalur Mandiri, Ini Daftar Kampus yang Buka Pendaftaran Juni

Uji Coba pada Model Hewan

Penelitian juga diperluas dengan melibatkan model tikus yang mengalami kondisi mirip Parkinson. Pada model hewan tersebut, peneliti menemukan kadar zat besi yang rendah pada rambut yang berkaitan dengan disfungsi usus.

Pada manusia, perubahan bakteri usus diketahui bisa muncul bertahun-tahun sebelum diagnosis Parkinson ditegakkan. Karena itu, kekurangan zat besi pada rambut dinilai berpotensi menjadi indikator awal.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================