BOGOR, TODAY — Pesta rakyat Cap Go Meh (CGM) ‘Street Fest’ 2016 mulai kehilangan wibawa. Sudah sepi dari pengunjung, pengaturanÂnya pun hancur lebur. Jauh berbeda dengan perayaan tahun lalu, meski juga tak terlalu rapi tapi masih puÂnya power.
Agenda yang telah dijadwalkan dimulai pukul 14.00 WIB ini molor dan baru bisa diselenggarakan pada pukul 14.30 WIB. Suasana Jalan SuryakanÂcana pada pukul 14.15 masih tampak lenÂgang. Ruas jalan dari arah Radio Megaswara hingga ke dekat panggung utama di depan Vihara Danagun tampak lengang. Padahal, pada perayaan Cap Go Meh tahun 2015, ruas jalan tersebut sudah disesaki puluhan ribu pengunung sejak pukul 12.30.
Pesta Cap Go Meh kali ini benar-benar apes. Bukan hanya sepi pengunjung, tetapi juga pawang hujannya tak mempan. TerÂbukti, Jalan Suryakancana diguyur hujan deras sekitar pukul 15 saat acara baru saja dimulai. Anehnya, di beberapa tempat di Kota Bogor pada jam yang sama tidak hujan, termasuk di daerah Ahmad Yani yang baru disiram hujan tak terlalu deras pukul 16-an.
Akibat kurang saktinya pawang hujan, membuat jumlah pengunjung jauh dari yang digembar-gemborkan. Sebagai catatan, acaÂra CGM ‘Street Fest’ pada tahun 2015 lalu mampu menghipnotis ratusan ribu warga Bogor dan warga Jabodetabek. Tapi kali ini berbeda, jumlah penonton berkurang dan tidak mencapai angka yang didagangkan.
Sekitar pukul 14.30 WIB, hujan ringan sempat mereda dan acara CGM ‘Street Fest’ dimulai secara resmi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto bersama istri dan beberapa tamu undangan lainnya telah mengisi bangku VIP, seperti; Wakil Walikota Bogor, Usmar Hariman, Ketua DPRD Kota H Untung W Maryono, Wakil Ketua DPRD Heri CahyÂono, Sopian Ali Agam, Jajat Sudrajat, DanÂdenpom 31 Mayor Reza Nasution, Kapolres AKB Andi Herindra, Dandim 0606 Letkol Inf. Muhamad Albar. Hanya satu saja menteri yang datang yakni Menteri Pariwisata Arief Yahya dan mantan Putri Indonesia Imelda Francisca.
Menurut Bima Arya, ada tiga makna dan pesan dalam perayaan CGM ‘Street Fest’ Bogor 2016. Pertama, adalah tentang pentingnya melestarikan sebuah kebudayÂaan. “Dengan banyaknya jenis budaya yang tampil dalam acara ini, merupakan wujud dari wadah kebudayaan tanah air, bukan hanya membawa nama dari daerahnya maÂsing-masing. Kebudayaan ini penting untuk dilestarikan melalui event-event seperti ini,†ujar Bima, Senin (22/2/2016).
Kedua, tentang adanya keberkahan. Menurut Bima, setiap yang hadir baik langsung maupun tidak langsung dalam acara ini dapat menerima dampak positif dalam terselengÂgaranya event semacam ini. “Pedagang, hotel, dan warga akan mendapat keberkahan dalam terselenggaranya event ini,†tambahnya.
Ketiga, tentang kebersamaan. Sebab hari ini semua warga yang hadir dalam acara Cap Go Meh 2016 secara tidak langsung ikut merayakan kebersamaan warga Kota Bogor dan hal tersebut patut dibanggakan. “KeberÂsamaan terlihat dalam acara ini, mulai dari tuÂkang parkir, tukang gorengan sampai dengan pejabat-pejabat tumpah ruah bersama-sama menyaksikan acara ini, dan ini merupakan suatu kebanggaan,†tandasnya.
Tak hanya itu, Bima mengatakan acara ini juga bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bogor, sebab dengan keÂhadiran para turis dan pengunjung dari luar kota secara otomatis menambah kas PAD Kota Bogor. “10 hotel di Kota Bogor yang kita kunjungi semuanya penuh. Warga dari luar Bogor berdatangan untuk menyaksikan acara Cap Go Meh ini.†pungkasnya.
Sekedar informasi, berbagai macam pertunjukan menghiasi acara yang dikomÂandani Arifin Himawan, Ketua Panitia CGM ‘Street Fest’, yakni dimulai dengan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kota Bogor membuka acara, disusul munculnya Maskot CGM ‘Street Fest’ tiga kera Sungokong, perÂtunjukan komunitas perempuan cinta kain, Line Dance, Tarian Rengak Ayakan (Gandes Pamantes), Payung Padjajaran (Getar PakÂuan Bogor), Garuda Ngapak (Seni Citra BuÂdaya), Tarian Lo Cisan Santa Tu Dance (TaiÂwan), Boboko Longgor (Sanggar Edas), Reog Ponorogo (Singo Mungkoro), Liong Merah Putih, Barong Landung (Bali), Banjar Suka Duka (Komunitas Hindu Bali), Drumband Mandrava (NSI) dan lainnya, turut ambil baÂgian juga dalam acara kehadiran sosok Kera Merah Raksasa.
Tak ketinggalan, pameran 12 mobil hias mewarnai berlangsungnya acara CGM ‘Street Fest’, mobil-mobil yang hadir meruÂpakan perwakilan dari 12 shio yang meruÂpakan kepercayaan nasib orang China, yakni :mobil berhiaskan Shio Monyet yang meruÂpakan shio pada tahun ini di kalender keperÂcayaan Tionghoa, mobil Shio Ayam, mobil Shio Babi, mobil Shio Tikus, mobil Shio KerÂbau, Macan, Kambing, Kelinci, Kuda, Naga, dan Ular.
Panitia juga menggelar kompetisi Drum Band yang pesertanya berasal dari wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Acara yang digaÂwangi Gatut Susanta ini semarak berlangÂsung.
Guyuran hujan deras sempat menunda berlangsungnya acara CGM ‘Street Fest’. Sekitar 15 menit hujan tak kunjung reda. Acarapun dilanjutkan tanpa mempedulikan hujan deras. Banyak penonton yang lari dari area pawai untuk mencari tempat berteduh.
Jelang adzan Magrib tiba, seluruh peserta parade kebudayaan Cap Go Meh Bogor 2016, sudah mencapai garis finish. Kendati demikian, sebagian warga masih berkumpul di Jalan Suryakancana untuk menunggu acara berikutnya. Di tempat itu, terlihat lampion berwarna merah yang terpasang di sepanjang jalan dan membuat cantik pusat perekonomian lama ini.
Lampion- lampion berwarna merah dengan cahaya kuning redup ini semakin menegaskan jika kawasan Suryakancana merupakan pecinan-nya Kota Bogor. LampiÂon-lampion ini terpasang mulai dari Lawang Suryakancana hingga Jalan Raya Sukasari, yang menjadi rute peserta CGM ‘Street Fest’ 2016.
(Abdul Malik|Abdul Kadir Basalamah)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















