Cai Hening, Hedap Urang Kreha

Untitled-14KARENA diri kita adalah jambangan yang selalu perlu mem­peroleh air jernih kehidupan, maka pada tahapan tertentu, diri kita akan dapat menjadi cermin kehidupan sosial. Bagaimana kuali­tas dan keadaan suatu masyara­kat dan bangsa, dapat dilihat dari bagaimana kuali­tas diri pribadi manusianya.

Bang Sem Haesy

AIR yang jernih itu adalah budi baik, akhlak, akalbudi yang memberi nilai atas keseluruhan konteks kehidupan sosial. Ke­semua itu ditamsilkan dengan indah : Jam­bangan ma ngara(n)na pamuruyan. Kang­ken cai hening ma hedap urang kreha.

Padu padan jambangan sebagai in­san dan air jernih sebagai akal budi, akan bertemu pada cara pandang positif. Pedoman hidup masyarakat Pakuan Pajajaran di masa lalu, berhasil men­capai kejayaannya, karena mampu membangun pola pikir positif, yang di era kini dan mendatang kita sebut sebagai cara pandang positif (posi­tive think), baik sangka, obyektif, dan kritis (juga konstruktif) dalam memandang banyak hal yang ter­percik dari fenomena kehidupan (Ya mana kitu, mana na waas, teger rame a(m)bek).

Masyarakat yang semacam ini, ketika berhimpun menjadi warga masyarakat, baik kota – kabupaten – provinsi dan negara, maka akan tumbuh berkembanglah masyara­kat – negara – bangsa yang juga positif. Termasuk visioner (mem­punyai pandangan jauh ke depan) dalam bergerak mencapai sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi di masa depan.

BACA JUGA :  Sekda Ajat Ungkap Hasil Pemeriksaan 81 Kendaraan Dinas Terkait Temuan BPK

Di dalam suatu daerah (se­butlah kota dan kabupaten) harus terdapat banyak hal, termasuk nilai kebaikan dan kebajikan yang terla­hir dari akal budi, sehingga ketika dikunjungi, banyak orang akan me­nimba kebaikan dan kebajikan dari­padanya. Bila suatu daerah, kosong – tanpa nilai kebaikan dan kebaji­kan – sulit bagi manusia lain mem­peroleh nilai kebaikan daripadanya. Tak ada yang bisa diteladani.

Hal ini secara eksplisit tersurat dalam pedoman : Desa ma nga­ranya dayeuh. Na dayeuh, lamun kosong, hanetu turutaneunana. Kitu na sabda, lamun hamo kaeu­si carut ngara(n)na. Hengan lamun kaeusian ma na kahanan, eta keh na turutaneun.

Untuk mengetahui suatu dae­rah mempunyai nilai kebaikan dan kebajikan, dalam konteks pedoman hidup yang berlaku ketika Pakuan berjaya di masa lalu, adalah kuali­tas dan model komunikasi yang berkembang di tengah masyara­katnya. Komunikasi yang dilan­dasi oleh tatakrama, memberikan nilai kearifan dan mengekspresi­kan kebajikan, dari situ manusia mendapatkan keteladanan.

BACA JUGA :  BMW Hadirkan Tiga Mobil Performa Baru di Indonesia, M2 CS Jadi Bintang Utama

Bila para pemimpin, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan semua kalangan di suatu daerah mencerminkan komunikasi yang baik, ditandai dengan penggunaan kata-kata yang sopan dan baik, maka banyak hal yang boleh ditiru, dicontoh, diteladani. Khasnya per­kataan benar yang mencerminkan perbuatan. Atau perbuatan yang dilaksanakan sebagai perwujudan dari perkataan para pemimpinnya. Kitu keh na sabda. Mana kaeu­sian, mana dipajar bener laksana (Demikianlah semua perkataan, dikatakan berisi, bila benar-benar terbukti – dalam perbuatan).

Dalam keseluruhan konteks kini dan mendatang, apa yang telah berlaku di masa kejayaan Pakuan Pajajaran, itu bisa kita petik pelaja­rannya. Yaitu, setiap pemimpin tak boleh lengah untuk selalu mendi­dik rakyatnya. Cara terbaik dalam mendidik rakyat adalah memberi­kan teladan. Hal itu antara lain di­tandai dengan satunya kata dengan perbuatan.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================