Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan)

Pada tahun 2020 ini bangsa Indonesia memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-75. Setelah 75 tahun merdeka, dan sekarang umur kita berapa? apakah secara pribadi kita sudah merdeka? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu apa pengertian dari merdeka itu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata merdeka mempunyai tiga arti yaitu: pertama bermakna bebas (dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya), berdiri sendiri. Kedua bermakna tidak terkena atau bebas dari tuntutan. Ketiga bermakna tidak terikat tergantung pihak tertentu, leluasa (dapat berbuat sekehendak hatinya).

Jika boleh disimpulkan 3 arti kemerdekaan di atas berarti bebas dari tuntutan, bebas dari penghambaan, bebas dari penjajahan, bebas dari rasa takut, bebas melakukan apa yang ingin dilakukan.

Menurut Islam, merdeka adalah bebas untuk bertindak sesuai dengan syariat Islam.Jangan takut dengan syariat Islam, karena Ibnu Taimiyah mendefinisikan syariat Islam itu menaati Allah, menaati Rasul-Nya, dan para pemimpin yang beriman.

Jadi seorang muslim hidup di dunia ini tidak bisa lepas dari syariat Islam, dari bangun tidur sampai tidur lagi, dari lahir sampai mati, seorang muslim itu harus pakai syariat Islam. Mau tidur dan bangun tidur berdoa, mau makan dan minum berdoa, mau masuk dan keluar toilet juga berdoa dan lain-lain itulah makna dari styariat Islam.

Bayi baru lahir juga diadzani dan diiqomati ini juga syariat Islam, mau nikah juga pakai syariat Islam dengan segala syarat-syaratnya, mau shalat, puasa, zakat, naik haji juga syariat Islam. Dan yang terakhir jika kita wafat juga pakai syariat Islam,  seperti cara memandikan dan menshalatkan.  Jadi kita semua dalam hidup ini sudah melakukan syariat Islam dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jadi syariat islam itu bukan hal yang menakutkan.

Makanya dulu Piagam Jakarta (sebelum berubah menjadi Pancasila) pada sila pertama berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,”. Setelah melalui musyawarah dan mufakat antara Ulama, Kyai, kaum nasionalis dan non muslim, Pancasila sila pertama berubah menjadi,”Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Inilah indahnya dan eloknya toleransi yang dicontohkan para pendiri bangsa dalam menghadapi perbedaan pendapat. Dan ini juga contoh kebesaran hati dari golongan Islam yang merupakan mayoritas tapi tetap menghargai pendapat golongan minoritas (non muslim). Karena pada waktu itu, golongan minoritas sempat mengancam keluar dari NKRI, jika dalam Pancasila sila pertama masih ada kata-kata “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Baik penulis akan membahas kemerdekaan dihubungkan dengan diri kita masing-masing, bukan kemerdekaan yang dihubungkan dengan kondisi bangsa dan negara. Mengapa penulis berkeinginan seperti itu, karena sudah banyak yang menulis kemerdekaan dihubungkan dengan bidang hukum, politik, ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya dan lain-lain yang sedang up date seperti pandemi Covid 19.

Jadi arti merdeka menurut penulis adalah kita sudah dapat mengendalikan hawa nafsu kita. Itulah sejatinya arti merdeka,  Menurut sabda Nabi Muhammad SAW,“Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.”.

Untuk mengecek kita sudah merdeka atau belum merdeka dalam hidup ini pada hal-hal tertentu, ya kita harus jujur sudah bisa mengendalikan hawa nafsu kita? Atau justru belum. Misal jika kita jadi pemimpin dzolim itu berarti belum merdeka, karena pemimpin itu harus amanah, adil, melayani dan tahu kondisi rakyatnya. Seperti Rosul SAW yang punya sifat fathonah (cerdas), amanah (bisa dipercaya), sidik (jujur/benar) dan tabligh (bisa menyampaikan)

Contoh lain jika kita masih korupsi, itu kita belum merdeka, karena tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita untuk memperkaya diri dengan cara haram. Sudah merdeka jika kita sudah menjadi orang yang jujur seperti Rosul SAW.

Juga misal kita masih sombong, ini juga belum merdeka, karena sombong adalah sifat yang merasa dirinya paling benar dan orang lain dianggap salah, harusnya jika sudah merdeka kita punya sifat rendah hati seperti Rosul SAW yang diludahi orang Yahudi, tapi Rosul SAW orang pertama yang menjenguk orang Yahudi tersebut sewaktu sakit.

Jika kita pelit itu belum merdeka, karena ada hak orang lain pada harta kita. Kita sudah merdeka jika punya sifat dermawan, seperti Rosul SAW yang setiap hari bersedekah.

Bahkan bisa jadi orang kaya belum merdeka, misal orang kaya ini sudah punya kekayaan 1 trilyun, tapi belum puas dan tidak bahagia serta pingin punya kekayaan 2 trilyun. Sementara orang miskin yang tidak punya apa-apa (hanya barang sekedarnya) hidup bahagia, sabar dan selalu bersyukur atas takdir dari Allah ini.

Justru orang miskin ini yang sudah merdeka, karena sudah dapat mengendalikan hawa nafsunya meski kondisinya sederhana. Sementara orang kaya tersebut belum merdeka, karena belum bisa mengendalikan hawa nafsunya untuk terus menambah kekayaannya.

Ayo kita cek sifat dan perilaku kita, apakah kita sudah merdeka atau belum merdeka. Jayalah Indonesiaku. (*)