TANGERANG TODAY – Musim kemarau yang sangat panjang ternyata mulai berimbas pada kekeringan di sejumlah kecamatan di Tangerang. Pemda pun bekerja sama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) di Jakarta atau Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membuat hujan buatan.

“Selain melakukan Salat Istisqa atau permohonan meminta hujan, ada langkah lainnya yang harus kita ambil, yakni hujan buatan. Hal ini karena volume air yang berasal dari Sungai Cisadane terus mengalami penurunan setiap harinya dan itu terlihat dari tinggi permukaan air,” kata Sekertaris Daerah Kabupaten Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, Jumat (4/10/2019).

Dikutip dari Liputan6.com, nantinya, Pemerintah Daerah lebih dulu berkoordinasi dengan Persatuan Perusahaan Air Munum Seluruh Indonesia (Perpamsi), kemudian mengirimkan surat permohonan kepada BPPT untuk penggunaan Kapur Tohor aktif (CaO) sebagai bahan semai dalam meningkatkan efektivitas teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau disebut dengan hujan bauatan.

“Kita akan lakukan koordiasi juga dengan perusahaan air minum, dan selanjutnya bersama sama berkoordinasi ke pihak BPPT,” ujarnya.

17 Kecamatan di Tangerang Kekeringan

Sungai Cisadane merupakan satu-satunya sumber air baku bagi pengelola air bersih di wilayah Tangerang. Dikhawatirkan, bila terus mengalami penyusutan volume air akibat hujan yang tidak kunjung turun, maka proses penyaluran dan pelayanan air bersih akan terganggu.

“Bukan hanya layanan kepada rumah tangga saja yang terganggu, tapi bisa berpengaruh pada kondisi persawahan di Tangerang yang mana, juga bergantung pada aliran dari Sungai Cisadane,” ungkapnya.

Hingga saat ini terdata, 17 kecamatan yang terdampak kekeringan. Namun, wilayah terparah terdapat dibagian utara Kabupaten Tangerang beberapa diantaranya yakni, Kresek, Pakuhaji dan Kronjo.

Alhasil, hingga saat ini, wilayah yang terdampak parah kekeringan, terus mendapatkan bantuan air bersih yang dikirimkan melalui mobil tangki oleh pemerintah setempat.(net)

loading...