Untitled-17JAKARTA, TODAY — Pen­copotan empat menteri Kabinet Kerja dan Sek­retaris Kabinet, sempat mengun­dang tanda tanya, apa dosa besar para menteri itu? Menurut Tim Ko­munikasi Presiden Teten Masduki, dicopotnya mereka bukan berarti berkinerja buruk.

“Presiden sampaikan bahwa ini bukan kinerja orang itu gagal atau diganti karena ada cacat atau wanprestasi, bukan. Tapi Presiden lihat perkembangan dinamika global, nasional,” kata Teten di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2015).

Seperti di­beritakan harian ini Kamis ( 1 3 /8/ 2 0 1 5 ) , lima menteri yang dicopot dari Kabinet Kerja adalah Menko Pol­hukam Tedjo Edhy Purdi­janto, Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo, Menteri PPN/Kepala Bappenas An­dronof Chaniago, Menteri Perda­gangan Rachmat Gobel, dan Sek­retaris Kabinet Andi Wijoyanto. Sementara Menko Perekonomian Sofyan Djalil digeser menjadi Men­teri PPN/Kepala Bappenas meng­gantikan Andrinof Chaniago.

Faktor ekonomi menjadi yang paling disoroti untuk segera men­gambil keputusan. Jokowi ingin para menteri baru dapat membawa perubahan se­cara cepat. “Presiden perlu kabi­net kerja yang lebih solid, yang lebih kuat dan efektif,” imbuh Teten.

Dia kemudian menambahkan bahwa figur-figur yang diangkat menjadi menteri sudah cukup dikenal publik. Sehingga dapat mengganti secara cepat.

Sementara itu para menteri lain yang diganti disebut Teten ti­dak keberatan dengan keputusan Presiden. Karena semua ingin agar roda pemerintahan berjalan tanpa hambatan. “Ya disampai­kan. Intinya bahwa para men­teri itu kan waktu diangkat juga, kalau diberhentikan itu bentuk hak prerogatif Presiden,” imbuh Teten.

Reshuffle kabinet disebut su­dah tak bisa ditunda lagi karena publik dan pasar butuh kepastian politik. Sehingga memang ada salah satu menteri yang belum diberitahu secara tatap muka dengan Presiden Jokowi kalau akan direshuffle. “Kalau ditunda terus tidak bagus lah terutama untuk iklim usaha. Karena kondi­si saat itu butuh kepastian poli­tik,” ucap Teten.

Mengenai mantan Menko Maritim Indroyono Soesilo yang hari ini datang ke Istana men­emui Jokowi pun dijelaskan oleh Teten. Menurut dia Indrojono hanya pamitan saja karena kema­rin belum sempat pamitan. “Saat itu Pak Indro sedang bertugas di Papua sehingga tidak bisa diberi tahu langsung,” kata Teten.

Tidak Libatkan KPK

Lima menteri yang dipilih Presiden Jokowi dalam reshuflle kali ini tidak melibatkan KPK. Istana berkilah situasi ekonomi saat ini mengharuskan adanya perubahan yang cepat.

Teten Masduki menjelaskan, perombakan di tubuh kabinet perlu dengan situasi seperti ini. Para pelaku bisnis perlu secepat­nya mengetahui langkah politik yang diambil pemerintah.

“Kemarin memang ada keperluan segera reshuffle, su­paya kepastian bagi dunia usaha. Ini kurang bagus kalau reshuffle itu berlarut-larut. Karena kepas­tian politik, saya kira penting un­tuk bisnis,” kata Teten.

Namun menurut Teten, figur-figur yang dipilih Jokowi saat ini sudah sangat dikenal integri­tasnya oleh publik. Dan Jokowi sendiri sudah mengenal jauh orang-orang yang dipilihnya. “Presiden sudah mempertim­bangkan integritas mereka dan presiden sudah cukup menge­nal,” jelas aktivis antikorupsi ini.

Menurutnya, PPATK dan KPK bisa tetap menelusuri rekam jejak menteri yang sudah di­pilih itu. Dan Jokowi pun, lanjut Teten, sangat terbuka dengan langkah KPK.

Rupiah Masih Loyo

Perombakan kabinet yang di­lakukan Presiden Jokowi terjadi saat Indeks Harga Saham Gabun­gan (IHSG) dan nilai tukar rupiah anjlok. Beberapa menteri ekono­mi yang diganti cukup menjadi perhatian. Ada empat menteri baru di bidang ekonomi, yaitu Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Maritim Rizal Ramli, Menteri PPN/Kepala Bap­penas Sofyan Djalil, dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong.

Namun sepertinya perom­bakan itu tidak memberi senti­men positif di mata investor. IHSG dan rupiah tetap saja belum bisa menguat.

Menanggapi hal ini, Teten Masduki, menjelaskan dalam po­sisi seperti itu, IHSG dan rupiah memang sulit untuk berbalik arah secara cepat. Walaupun sebenarnya menurut Teten per­gantian menteri adalah sentimen positif untuk investor.

“Memang reshuffle kabinet nggak mungkin bisa mengangkat rupiah atau saham. Karena ini hal yang menurut saya, siklusnya be­gitu dalam,” ungkapnya.

Gejolak yang terjadi di pasar keuangan memang diakibatkan oleh devaluasi yuan China. Kare­na sehari sebelum pergantian menteri baru, yuan melemah sampai dengan 2%. Berlanjut pada hari yang sama. “Ini karena gejala global, dengan didevalu­asinya yuan,” sebut Teten.

Tidak hanya Indonesia juga mengalami persoalan tersebut. Hampir semua negara di dunia terkena dampaknya. Sekarang masyarakat harus memantau kin­erja dari para menteri baru.

“Kita tunggu saja bagaimana para menteri baru ini yang pu­nya reputasi ini bisa atasi persoa­lan ekonomi. Bisa arahkan pem­bangunan ekonomi masa depan lebih baik. Kalau sekarang, siapa pun memang akan berat, lihat semua juga susah,” terangnya.

(Alfian M|dtc)