BOGOR TODAY – Sistem belajar daring atau online masih menjadi persoalan yang terus semakin bergulir seolah-olah tak menemukan titik terang.

Hal itu terungkap Bupati Bogor, Ade Yasin saat memberikan sambutan pada peringatan upacara Dirgahayu RI ke-75 di Lapangan Tegar Beriman, Senin (17/8/2020) kemarin.

Dalam pidatonya, Ade Yasin hanya menekankan untuk fokus dalam pemulihan ekonomi selama masa pandemi ke depan. Ia merincikan pencapaian-pencapaian Kabupaten Bogor selama tahun 2019. Dilanjutkan dengan strategi-strategi khusus agar perekonomian Kabupaten Bogor di tengah pandemi bisa dibangkitkan kembali.

Padahal sektor pendidikan juga ikut terpuruk dengan kondisi pandemi ini. Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) banyak dikeluhkan orang tua. Pemberlakuan PSBB Pra AKB, hingga 10 September, memperpanjang belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi gadget dan jaringan internet.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim sejak awal mewanti-wanti pemkab seharusnya mencari solusi atas permasalahan kompleks pembelajaran secara daring itu.

Pasalnya, bukan hanya kendala dari segi prasarana maupun jaringan. Bahkan akses dan sumber daya juga ikut mempengaruhi pembelajaran jarak jauh itu.

“Kompleks memang permasalahan ini dan tidak bisa dikorbankan nyawa generasi masa depan kita. Untum di daerah tengah seperti ini saja, memang ada sinyal, ada handphone, namun keluhannya adalah kuota karena tidak ada duitnya,” terang politikus asal PKS itu kepada wartawan, Selasa (18/8/2020).

Ia memastikan agar hak anak-anak di tengah pandemi harus ditunaikan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bersama Dinas Pendidikan (Disdik) harus mencari solusinya.

“Kami terus mendorong, ada hak anak yang tidak tertunaikan. Terkait (jaringan) wifi harus segera dikaji dan direalisasi kalau itu kemudian bisa sangat membantu. Kami supporting kalau misal memang mau dianggarkan dari realokasi,” tandasnya.

Sementara, salah seorang warga Kelurahan Pabuaran, Samsuri mengakui kebutuhan paket data untuk belajar online anaknya tergolong agak berat. Hampir setiap hari ia harus mengeluarkan uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Belum lagi dengan video Youtube yang harus disimak dengan durasi yang sangat panjang. “Kalau tidak bisa beli kuota, nebeng di hotspot saudara,” imbuhnya. (Bambang Supriyadi)