287069_ketua-tim-reformasi-tata-kelola-migas-faisal-basri_663_382JAKARTA, TODAY — Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menyatakan, rupiah tidak selayaknya berada di level lemah pada saat ini. Pasalnya dari beberapa data ekonomi yang terkini, kondisi Indo­nesia tidak seburuk yang dinilai dan pelemahan rupi­ah lebih disebab­kan oleh spekulan serta krisis keper­cayaan.

Nilai tukar ru­piah terus melemah sepanjang tahun ini dan tercatat menyentuh level 13.385 per USD di pasar uang pada 8 Juni 2015. Menteri Keuangan Bambang Brodjo­negoro sempat menganggap pelemahan rupiah akibat kondisi penguatan dolar AS atau yang sering disebut dengan ‘super dollar’. Pasal­nya, banyak mata uang di negara lain juga mengalami hal serupa.

“Sebenarnya Menteri Keuangan itu sadar enggak sih kalau rupiah sudah sangat lama melemah? Persis­nya sejak awal Agustus 2011,” ujar Faisal Basri dalam kunjungannya ke kantor redaksi CNN Indonesia, Senin (22/6/2015).

Ia menuturkan, sejak Desember 2014 cukup banyak faktor yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah. Yang terpenting, lanjutnya, adalah kemerosotan harga minyak. Faisal menilai impor minyak menjadi bi­ang keladi kemerosotan rupiah sejak tahun 2011. Namun selama Januari-Mei 2015 impor minyak turun tajam, sebesar 51 persen.

“Sedemikian tajamnya perurunan impor BBM se­hingga tidak lagi menjadi komoditas impor terbesar sebagaimana terjadi selama 2011-2014. Kini impor BBM hanya menduduki urutan ketiga terbesar,’’ kata Faisal Barsi. ‘’Kemerosotan harga BBM pulalah yang mem­buat transaksi perdagangan luar negeri kembali surplus setelah selama tiga tahun sebelumnya selalu defisit,” tambah Faisal.

Lebih lanjut, ia meyatakan meskipun ekspor selama Januari-Mei turun sebesar 11,8 persen, transaksi perdaga­gan tetap surplus karena impor turun lebih tajam, yaitu 17,9 persen. Penurunan impor sangat tajam dialami oleh migas, yaitu 42,8 persen.

“Penurunan nilai impor juga dialami oleh berbagai komoditi yang tergolong sebagai kebutuhan pokok kare­na kemerosotan harga, misalnya gandum, kedelai, jag­ung dan gula,” katanya.

Untuk perdagangan jasa, kata Faisal, juga mengalami perbaikan. Defisit perdagangan jasa yang biasanya per triwulan sekitar USD 2,5 miliar sampai USD 3,5 miliar, pada triwulan I-2015 hanya USD 1,8 miliar.

Karena akun primary income dan secondary income tidak mengalami perubahan berarti, maka defisit akun semasa (current account) pada triwulan I-2015 membaik menjadi hanya 1,8 persen PDB dibandingkan 2,9 persen PDB pada tahun 2014.

“Defisit current account ditutupi oleh surplus lalu lintas modal dalam bentuk penanaman modal asing langsung (FDI) maupun portofolio,” katanya.

Dengan demikian, neraca pembayaran terus men­catatkan surplus, sehingga cadangan devisa juga masih menikmati surplus. Karena itu seharusnya secara teknis, rupiah tidak mengalami pelemahan berkelanjutan.

“Jadi mengapa rupiah terus melemah padahal paso­kan dolar AS lebih besar ketimbang permintaannya? Pe­nyebabnya diduga pemilik dolar AS tidak menukarkan dolarnya ke rupiah karena motif berjaga-jaga. Kalau saya sih menilai seharusnya rupiah berada di level 11.000 per dolar AS,” ungkapnya.

Faisal menilai pemilik USD khawatir merugi jika nanti mereka butuh membutuhkan mata uang negeri Paman Sam itu, maka harus membeli dengan kurs yang lebih tinggi lagi. Ia me­nilai, masyarakat maupun pebisnis tak berhasil diyakinkan oleh pemer­intah dan Bank Indonesia (BI).

“Ada semacam kri­sis kepercayaan dan tergerusnya trust terha­dap pemerintah dan BI. Hal itu mengakibatkan pasokan dolar AS di pasar valuta asing tidak mening­kat. Apalagi mengingat vol­ume transaksi di pasar valu­ta asing sangat tipis, sekitar USD 2 miliar saja dalam se­hari,” jelasnya.

Ekonomi Lesu

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini tengah lesu, yang terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi kuartal I-2015 yang hanya 4,7%. Pemerintah sulit mengejar tar­get pertumbuhan ekonomi 5,7% di tahun ini.

Dalam rapat Komisi XI DPR, pemerintah diminta un­tuk bisa mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 5,7% di tahun ini.

“Komisi XI meminta pemerintah untuk berupaya keras agar pertumbuhan ekonomi 2015 bisa lebih baik dari 2014. Agar mencapai target pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 5,7%, sehingga terjadi kepercayaan dan keyakinan bagi pelaku usaha maupun masyarakat,” kata Ketua Komisi XI DPR, Fadel Muhammad dalam rapat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (22/6/2015).

Hadir dalam rapat itu, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Mar­towardojo, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago.

Menjawab permintaan Komisi XI DPR ini, Bambang merasa berat, namun pemerintah akan mengupayakan. “Sebenarnya untuk target 5,7% berat, tapi kami upay­akan,” kata Bambang.

Dalam kesepakatan itu, Komisi XI DPR juga meminta pemerintah dan BI memperbaiki kebijakan-kebijakan yang dipakai dalam mengatasi inflasi, dan juga perbaikan defisit neraca perdagangan, yang diperlukan untuk menjaga nilai tukar rupiah terha­dap USD.

(Alfian M|cnn)